Bawaan anak sejak lahir tidak sama. Ada yang cenderung patuh. Ada yang agak bandel. Namun, kalau orang tua mendidiknya secara intensif dan konsisten, maka kebandelan anak tidak akan mencapai tahap yang tidak terkontrol.
Umumnya, anak bandel disebabkan oleh lingkungan yang kurang mendukung. Seperti, (a) orang tua kurang peduli atau peduli tapi melakukan pembiaran karena dianggap masih kecil; (b) lingkungan teman-teman sebaya yang kurang baik; dan (c) pengasuhan anak diserahkan sepenuhnya pada orang lain seperti kakek atau nenek atau pembantu.
Pada dasarnya semua anak dapat dan mudah diatur. Tetapi adanya pembiaran oleh orang tua terhadap kesalahan-kesalahan kecil yang dilakukan saat balita apalagi lingkungan yang kurang mendukung telah menstimulasi kebandelan-kebandelan kecil itu menjadi kenakalan besar. Ujung-ujungnya, anak sulit diatur. Bandel dan keras kepala. Repotnya lagi, saat orang tua sudah kehabisan akal dan merasa tidak mampu mendidik anaknya, mereka lalu menyerahkannya pada lembaga pendidikan atau pesantren.
Apa yang harus dilakukan orang tua pada anak-anak yang salah urus dan bandel seperti itu? Pada usia masuk sekolah, anak dapat dikualifikasikan menjadi dua: pra-remaja (preadolescene atau preteen) dan remaja (adolescene atau teenager). Pra-remaja adalah anak yang usianya berkisar antara 10 sampai 12 tahun. Sedangkan remaja adalah anak dengan usia 12 sampai 21 tahun.
Tangani Sejak Dini
Seorang anak usia di bawah 10 tahun yang bandel akan menjadi anak praremaja yang semakin bandel. Demikian juga seterusnya, anak praremaja yang bandel akan menjadi anak remaja yang lebih bandel lagi kalau dibiarkan. Intinya, tangani kebandelan anak sejak dini. Jangan menunggu waktu sedikitpun sampai kebandelan itu mencapai puncaknya. Namun, apabila sudah terlanjur, maka berikut beberapa tips untuk menangani anak yang bandel atau keras kepala.
Pertama, buka hubungan komunikasi. Kunci dari hubungan yang sehat dan bahagia antara orang tua dan anak remajanya adalah komunikasi. Baik dengan ayah maupun ibu. Dan tanda dari hubungan yang harmonis adalah apabila anak mau berbagi atau melaporkan permasalahan yang dihadapinya di luar rumah pada orang tuanya.
Kedua, dengarkan. Orang tua terbiasa memberi pendapat atau memberi perintah. Coba sesekali menjadi pendengar. Dengarkan apa yang dinginkan anak dan setelah itu beri respons yang semestinya. Keras kepala anak akan berkurang apabila dia merasa didengar. Namun, pada saat yang sama, orang tua harus membatasi perdebatan. Jangan biarkan anak berbicara terlalu lama dan mendominasi. Dengarkan secukupnya dan ambil keputusan. Anak harus tahu bahwa orang tualah yang berkuasa dan punya otoritas tertinggi di rumah.
Ketiga, selektif berdasarkan skala prioritas. Kalau anak melakukan banyak pelanggaran dari aturan yang telah dibuat, maka prioritaskan menangani pelanggaran besar yang harus ditangani lebih dulu. Biarkan pelanggaran kecil dilakukan anak, setidaknya untuk sementara. Pelanggaran besar dapat bersifat universal atau hanya internal dalam keluarga. Tindakan kriminal adalah salah satu contoh pelanggaran besar yang bersifat universal. Utamakan mengatasi hal ini lebih dulu, dibandingkan pelanggaran besar yang bersifat internal.
Keempat, beri kesibukan positif. Ikutkan pelatihan atau kursus keterampilan yang sesuai dengan bakatnya. Jangan biarkan anak bersantai dengan lingkungan yang kurang kondusif.
Kelima, berdoa kepada Allah setiap selesai solat lima waktu. Apabila mungkin lakukan solat berjamaah di rumah setiap hari minimal sekali. Dan ajak anak untuk solat tahajjud setiap malam. Bagi seorang muslim, usaha yang maksimal adalah usaha nyata yang diikuti dengan doa kepada yang Maha Kuasa.
Jumat, 13 Januari 2012
Pertemuan di India
PERTEMUAN puncak antara Perdana Menteri India Manmohan Singh dan Presiden Pakistan Pervez Musharraf semakin membuktikan bahwa dalam dunia diplomasi (sebagaimana dalam kriket, olahraga populer di kawasan ini) hasil dari pertemuan tingkat tinggi sering berupa kebalikan dari prediksi sebelumnya.
Apabila pertemuan puncak di Agra pada Juli 2001 hanya menghasilkan kepahitan dan jalan buntu, maka hari-hari menjelang pertemuan puncak pada pertengahan April tampak kedua pihak bersikap low profile dan berhati-hati. Namun, hasil pertemuan saat ini dianggap banyak analis kedua negara sebagai paling sukses dan menjanjikan banyak harapan cerah ke depan.
Pernyataan bersama yang dibacakan PM India mengandung enam aspek yang patut dicatat sebagai fondasi utama peta jalan damai antara India dan Pakistan.
Pertama, penekanan bahwa proses damai yang saat ini sedang berjalan tak dapat berubah (irreversible). Kedua pihak mengatakan bahwa apapun yang terjadi di masa depan tidak akan bertolak belakang dengan apa yang sudah dicapai saat ini dimulai dan ditingkatkannya lalu lintas perbatasan dan hubungan antarmasyarakat seperti olahraga dan kesenian, serta gencatan senjata di sepanjang Garis Kontrol (GK) dan di sungai es Siachen. ‘Ngambek’-nya India dengan memutus seluruh hubungan udara, darat, dan laut dengan Pakistan menyusul serangan militan pada 13 Desember 2001 di gedung Parlemen diharapkan tidak akan terulang.
Kedua, bahwa terorisme tidak akan diberi kesempatan untuk mengganggu hubungan. Formulasi khusus patut dicatat bahwa kedua pemimpin berjanji untuk tidak membiarkan terorisme mengganggu proses damai. Terorisme yang dimaksud di sini bukanlah retorika yang biasa dipakai India untuk menghantam Pakistan tetapi ia bermakna sebuah masalah yang harus dihadapi secara bersama oleh kedua negara. Pernyataan ini mengindikasikan bahwa Islamabad akan terus berusaha menjamin bahwa insiden terorisme tidak direncanakan atau dilancarkan dari teritorial yang dikontrolnya; New Delhi juga berjanji untuk tidak overreaktif pada insiden terorisme yang kemungkinan terjadi di masa depan.
Dengan kata lain, India dan Pakistan secara bersama telah sepakat tidak akan memberikan hak pada teroris untuk memveto proses damai melalui aksi kekerasan yang dramatis.
Ketiga, tujuan membahas isu Jammu dan Kashmir (JK) adalah untuk mencapai ‘penyelesaian final.’ Sebelumnya, pada 24 September 2004 pernyataan yang dikeluarkan di New York mengatakan ‘kemungkinan sejumlah opsi untuk penyelesaian dan negosiasi damai soal JK,’ sementara pada 6 Januari 2005 pernyataan bersama menegaskan ‘penyelesaian damai atas seluruh isu bilateral, termasuk Jammu dan Kashmir, sampai memuaskan kedua belah pihak.’ Namun demikian, pernyataan terakhir ‘penyelesaian final,’ sebenarnya bukan hal baru. Bahkan kalimat ini diambil dari Kesepakatan Shimla 2 Juli 1972, klausul 6 dimana kedua negara berkomitmen ‘untuk membahas lebih lanjut menuju perdamaian dan normalisasi jangka panjang, termasuk isu tahanan perang, penyelesaian final soal Jammu dan Kashmir dan dimulainya hubungan diplomatik.’
Dengan kembali pada bahasa yang dipakai pada kesepakatan Shimla 1972, India dan Pakistan secara bijaksana telah sepakat untuk menjadikan Kashmir sebagai isu signifikan.
Keempat, setelah memberi penekanan atas perlunya penyelesaian final, pernyataan itu menunjukkan langkah-langkah awal yang searah dengan paradigma ‘perbatasan lunak’. Dengan demikian, ia membahas langkah selanjutnya ‘untuk menambah interaksi dan kerja sama di sepanjang perbatasan,’ termasuk pergerakan jalur angkutan bus dan perdagangan antarperbatasan di Kashmir.
Akan dimulainya truk angkutan menyeberangi perbatasan merupakan sebuah langkah saling percaya yang radikal bagi kedua negara yang akan mengarah pada geografi ekonomi kawasan kembali pada era prapemisahan.
Kelima, pernyataan bersama juga berkomitmen untuk mempercepat proses ekspor/impor produk dan menekankan perlunya interaksi bisnis lebih besar. Selama India terkesan ingin menghindari isu Kashmir, maka Pakistan tak akan tertarik untuk bergerak lebih jauh di bidang perdagangan.
Dengan tidak menghindar dari isu Kashmir (isu utama yang memicu tiga kali peperangan) maka India telah mencapai apa yang ia inginkan: komitmen Pakistan untuk mendahulukan sejumlah persoalan yang lebih ringan berjalan lebih dulu.
Keenam, Dr Singh dan Jenderal Musharraf tidak hanya menyepakati usulan pipa minyak dan gas Iran-Pakistan-India di tengah kritisisme AS atas proyek tersebut tetapi juga memperluas skup kerja sama energi antara kedua negara.
Dengan adanya peningkatan permintaan energi baik di Pakistan dan India serta perlunya Asia Selatan mengakses minyak dan gas dari Iran dan Asia Tengah, maka sangat perlu bagi kedua negara untuk memulai dialog energi yang lebih komprehensif.
Sementara itu, perbatasan di Kashmir, dalam istilah Musharraf, akan berupa soft border yang artinya India dan Pakistan akan tetap memiliki privilese kedaulatan baik de jure maupun de facto di kawasan yang dikuasai, namun pada waktu yang sama tidak akan menghalangi rakyat di kedua perbatasan untuk menikmati teritorial yang bersatu.
Apabila pertemuan puncak di Agra pada Juli 2001 hanya menghasilkan kepahitan dan jalan buntu, maka hari-hari menjelang pertemuan puncak pada pertengahan April tampak kedua pihak bersikap low profile dan berhati-hati. Namun, hasil pertemuan saat ini dianggap banyak analis kedua negara sebagai paling sukses dan menjanjikan banyak harapan cerah ke depan.
Pernyataan bersama yang dibacakan PM India mengandung enam aspek yang patut dicatat sebagai fondasi utama peta jalan damai antara India dan Pakistan.
Pertama, penekanan bahwa proses damai yang saat ini sedang berjalan tak dapat berubah (irreversible). Kedua pihak mengatakan bahwa apapun yang terjadi di masa depan tidak akan bertolak belakang dengan apa yang sudah dicapai saat ini dimulai dan ditingkatkannya lalu lintas perbatasan dan hubungan antarmasyarakat seperti olahraga dan kesenian, serta gencatan senjata di sepanjang Garis Kontrol (GK) dan di sungai es Siachen. ‘Ngambek’-nya India dengan memutus seluruh hubungan udara, darat, dan laut dengan Pakistan menyusul serangan militan pada 13 Desember 2001 di gedung Parlemen diharapkan tidak akan terulang.
Kedua, bahwa terorisme tidak akan diberi kesempatan untuk mengganggu hubungan. Formulasi khusus patut dicatat bahwa kedua pemimpin berjanji untuk tidak membiarkan terorisme mengganggu proses damai. Terorisme yang dimaksud di sini bukanlah retorika yang biasa dipakai India untuk menghantam Pakistan tetapi ia bermakna sebuah masalah yang harus dihadapi secara bersama oleh kedua negara. Pernyataan ini mengindikasikan bahwa Islamabad akan terus berusaha menjamin bahwa insiden terorisme tidak direncanakan atau dilancarkan dari teritorial yang dikontrolnya; New Delhi juga berjanji untuk tidak overreaktif pada insiden terorisme yang kemungkinan terjadi di masa depan.
Dengan kata lain, India dan Pakistan secara bersama telah sepakat tidak akan memberikan hak pada teroris untuk memveto proses damai melalui aksi kekerasan yang dramatis.
Ketiga, tujuan membahas isu Jammu dan Kashmir (JK) adalah untuk mencapai ‘penyelesaian final.’ Sebelumnya, pada 24 September 2004 pernyataan yang dikeluarkan di New York mengatakan ‘kemungkinan sejumlah opsi untuk penyelesaian dan negosiasi damai soal JK,’ sementara pada 6 Januari 2005 pernyataan bersama menegaskan ‘penyelesaian damai atas seluruh isu bilateral, termasuk Jammu dan Kashmir, sampai memuaskan kedua belah pihak.’ Namun demikian, pernyataan terakhir ‘penyelesaian final,’ sebenarnya bukan hal baru. Bahkan kalimat ini diambil dari Kesepakatan Shimla 2 Juli 1972, klausul 6 dimana kedua negara berkomitmen ‘untuk membahas lebih lanjut menuju perdamaian dan normalisasi jangka panjang, termasuk isu tahanan perang, penyelesaian final soal Jammu dan Kashmir dan dimulainya hubungan diplomatik.’
Dengan kembali pada bahasa yang dipakai pada kesepakatan Shimla 1972, India dan Pakistan secara bijaksana telah sepakat untuk menjadikan Kashmir sebagai isu signifikan.
Keempat, setelah memberi penekanan atas perlunya penyelesaian final, pernyataan itu menunjukkan langkah-langkah awal yang searah dengan paradigma ‘perbatasan lunak’. Dengan demikian, ia membahas langkah selanjutnya ‘untuk menambah interaksi dan kerja sama di sepanjang perbatasan,’ termasuk pergerakan jalur angkutan bus dan perdagangan antarperbatasan di Kashmir.
Akan dimulainya truk angkutan menyeberangi perbatasan merupakan sebuah langkah saling percaya yang radikal bagi kedua negara yang akan mengarah pada geografi ekonomi kawasan kembali pada era prapemisahan.
Kelima, pernyataan bersama juga berkomitmen untuk mempercepat proses ekspor/impor produk dan menekankan perlunya interaksi bisnis lebih besar. Selama India terkesan ingin menghindari isu Kashmir, maka Pakistan tak akan tertarik untuk bergerak lebih jauh di bidang perdagangan.
Dengan tidak menghindar dari isu Kashmir (isu utama yang memicu tiga kali peperangan) maka India telah mencapai apa yang ia inginkan: komitmen Pakistan untuk mendahulukan sejumlah persoalan yang lebih ringan berjalan lebih dulu.
Keenam, Dr Singh dan Jenderal Musharraf tidak hanya menyepakati usulan pipa minyak dan gas Iran-Pakistan-India di tengah kritisisme AS atas proyek tersebut tetapi juga memperluas skup kerja sama energi antara kedua negara.
Dengan adanya peningkatan permintaan energi baik di Pakistan dan India serta perlunya Asia Selatan mengakses minyak dan gas dari Iran dan Asia Tengah, maka sangat perlu bagi kedua negara untuk memulai dialog energi yang lebih komprehensif.
Sementara itu, perbatasan di Kashmir, dalam istilah Musharraf, akan berupa soft border yang artinya India dan Pakistan akan tetap memiliki privilese kedaulatan baik de jure maupun de facto di kawasan yang dikuasai, namun pada waktu yang sama tidak akan menghalangi rakyat di kedua perbatasan untuk menikmati teritorial yang bersatu.
ISRAEL dan TERORISME
Seandainya sebuah survei interim dilakukan tentang kondisi dunia, akankah ia menunjukkan bahwa dunia menjadi lebih aman setelah tragedi 11/9? Jawabannya mungkin dapat ditemukan dalam beberapa baris kata dari Thomas Hardy ini: “Beberapa aspek berada dalam diri kita, dan siapa yang tampak seperti raja dialah Sang Raja”.
Jawabannya juga akan tergantung pada siapa yang menjadi pemburu dan siapa yang jadi buruan. Perang melawan teror sudah menang, begitu kita diberitahu. Pada waktu yang sama jangkauan Alqaidah semakin jauh dan Eropa merasa terancam. Para menteri luar negeri NATO pun sepakat untuk mengambil langkah tegas guna memperkuat pertempurannya melawan terorisme. Dalam sebuah statemen yang dimaksudkan untuk mengungkapkan kesatuan dan membulatkan tekad dalam mengambil langkah-langkah penting guna “memberikan dimensi transatlantik esensial sebagai respons pada terorisme,” yang dalam menghadapinya tampak dibayangi ketakutan dan horor.Sebuah komisi sudah dibentuk di Amerika Serikat (AS) yang sedang menyelidiki serangan 11/9 dan apakah berbagai langkah dapat diambil untuk menghalangi tragedi itu terjadi. Tahun ini merupakan tahun pemilu di AS dan kesaksian berbagai pejabat terkait telah menjadi permainan yang saling memojokkan antara mereka yang berkuasa pada masa Clinton dan mereka yang sedang berkuasa saat ini.
Pertama, yang paling menggemparkan adalah tuduhan Richard Clarke yang menjadi pejabat ahli anti-terorisme Gedung Putih dan menulis buku berjudul Against All Enemies. Buku ini secara luas berseberangan dengan segala statemen yang pernah diucapkan pemerintahan Bush, sebuah tuduhan paling serius yang dilakukan orang dalam sendiri bahwa strategi kontraterorisme telah dipetieskan oleh pemerintahan Bush agar supaya dapat menginvasi Irak. Secara gamblang dia menyatakan bahwa perang Irak telah lama direncanakan.
Semua tuduhan itu tampak kurang relevan. Penyelidikan pasca-kejadian mungkin berguna bagi ilmu medis tetapi tak akan banyak gunanya bagi korp. Tidak ada seorang pun yang merasa heran lagi apa yang terjadi dengan WMD (Weapons of Mass Destruction senjata pemusnah massal). WMD tidak pernah ditemukan. Para antropolog yang mengadakan penggalian di Irak mungkin akan menemukannya seratus tahun lagi tetapi mereka akan memberikan semacam “rasa puas” yang dibutuhkan oleh kalangan yang haus perang.
Pada saat peristiwa Pearl Harbour, Franklin Delano Roosevelt berpidato di depan rakyat AS menyatakan bahwa “tidak ada yang kita takutkan kecuali rasa takut itu sendiri.” Sekarang rasa takut itu digunakan untuk menggiring rakyat dan para pejabat AS yang haus perang dapat mengatakan bahwa mereka tidak hanya memiliki keperkasaan militer tetapi juga ketakutan dalam waktu yang sama.
Richard Clarke memberikan pengakuan dengan nada permintaan maaf, yang lebih mirip dengan doa pertobatan: “Pemerintah telah mengecewakan kalian. Mereka yang dipercaya untuk melindungi kalian telah mengecewakan kalian. Dan saya sendiri telah mengecewakan kalian,” ujarnya. Tidak ada pengakuan semacam itu keluar dari Bush dan Blair, apalagi rasa bersalah yang mendalam. Mereka terus bergerak maju dari senjata pemusnah massal ke perubahan rezim ke demokrasi.
Irak telah ditentramkan dan dimerdekakan. Beberapa waktu lalu terjadi pembunuhan mengerikan atas empat pengawal pribadi kontraktor AS oleh massa yang marah di Fallujah. Rekaman video pembunuhan dan penyiksaan atas tubuh-tubuh mereka itu dianggap terlalu mengerikan untuk dipertontonkan di televisi. Ini bukanlah kemarahan biasa, ini murni timbul dari rasa benci yang berasal dari dalam rasa putus-asa, dan kekecewaan. Apa yang sebenarnya terjadi?
Seorang juru bicara militer AS hanya bisa mengatakan bahwa segalanya akan tampak buruk sebelum menjadi lebih baik. Terdengar sebuah gaung dari Vietnam. Di sana juga dulu dikatakan bahwa semuanya akan berjalan dengan baik. Kita diberitahu bahwa membandingkan Irak dengan Vietnam adalah analogi palsu dan tidak pas. Pernahkan ada perang yang berakhir dengan happy ending? Perang Dunia I menciptakan Hitler, Perang Dunia II memproduksi Perang Dingin dan runtuhnya Uni Soviet dengan bantuan Usamah bin Ladin dan kalangan Mujahidinnya menciptakan Alqaidah.
George Crile dalam bukunya My Enemy’s Enemy menuturkan kisah operasi rahasia terbesar sepanjang sejarah. CIA mempersenjatai kelompok Mujahidin. Dan tak lama kemudian keanehan pun terjadi: Mujahidin yang sama berubah menjadi militan dan diburu di seluruh dunia sebagai kelompok teroris. Mengapa komisi 11/9 tidak menginvestigasi bagaimana dan mengapa semua itu bisa terjadi? Siapa yang mengubah Usamah bin Ladin dari seorang kawan menjadi lawan abadi?
Hal yang sebaliknya terjadi dalam kasus Kolonel Khaddafi. Ronald Reagan menjulukinya sebagai seekor “anjing gila.” Pesawat pengebom AS tinggal landas dari pangkalan yang diberikan oleh Margaret Thatcher Inggris dan mengebom rumah Khaddafi untuk membunuhnya. Dia selamat akan tetapi tidak demikian dengan putrinya.
Khaddafi bagaikan seorang pendosa yang telah melihat cahaya dan dia telah menyerahkan proyek WMD-nya, saat ini tidak ada lagi bekas-bekas WMD yang ditemukan, dan dia pun mendapat anugerah kunjungan resmi dari Tony Blair sendiri. Khaddafi telah mengecam terorisme dan saat ini mendapat rapor baik dari coalition of the willing serta menjadi anggota terhormat dalam perang melawan terorisme. Mengapa tekanan dan diplomasi yang sama tidak digunakan pada Saddam Hussein?
Langkah mundur kontraterorisme Perang melawan teror telah mengalami kemunduran sangat besar yang disebabkan oleh veto AS atas resolusi DK PBB yang mengecam pembunuhan terencana atas Syekh Ahmed Yassin, pendiri Hamas. Ariel Sharon yang merasa mendapat dukungan saat ini telah melirik Yasser Arafat sebagai target besar berikutnya. Adakah perang melawan teror hanyalah alasan belaka untuk memuluskan ambisi Israel?
Ariel Sharon menjadi kendala utama perdamaian di Timur Tengah dan apabila dia terus dimanja AS, maka prospek perdamaian di kawasan ini hanyalah ilusi belaka. Hanya AS yang dapat membuat Israel untuk berpikir waras. Kalangan kawan dekat Amerika, termasuk Tony Blair, hendaknya dapat meyakinkan AS bahwa perlindungannya yang membuta atas Israel merupakan ancaman yang sama berbahayanya dengan Alqaidah.
Jawabannya juga akan tergantung pada siapa yang menjadi pemburu dan siapa yang jadi buruan. Perang melawan teror sudah menang, begitu kita diberitahu. Pada waktu yang sama jangkauan Alqaidah semakin jauh dan Eropa merasa terancam. Para menteri luar negeri NATO pun sepakat untuk mengambil langkah tegas guna memperkuat pertempurannya melawan terorisme. Dalam sebuah statemen yang dimaksudkan untuk mengungkapkan kesatuan dan membulatkan tekad dalam mengambil langkah-langkah penting guna “memberikan dimensi transatlantik esensial sebagai respons pada terorisme,” yang dalam menghadapinya tampak dibayangi ketakutan dan horor.Sebuah komisi sudah dibentuk di Amerika Serikat (AS) yang sedang menyelidiki serangan 11/9 dan apakah berbagai langkah dapat diambil untuk menghalangi tragedi itu terjadi. Tahun ini merupakan tahun pemilu di AS dan kesaksian berbagai pejabat terkait telah menjadi permainan yang saling memojokkan antara mereka yang berkuasa pada masa Clinton dan mereka yang sedang berkuasa saat ini.
Pertama, yang paling menggemparkan adalah tuduhan Richard Clarke yang menjadi pejabat ahli anti-terorisme Gedung Putih dan menulis buku berjudul Against All Enemies. Buku ini secara luas berseberangan dengan segala statemen yang pernah diucapkan pemerintahan Bush, sebuah tuduhan paling serius yang dilakukan orang dalam sendiri bahwa strategi kontraterorisme telah dipetieskan oleh pemerintahan Bush agar supaya dapat menginvasi Irak. Secara gamblang dia menyatakan bahwa perang Irak telah lama direncanakan.
Semua tuduhan itu tampak kurang relevan. Penyelidikan pasca-kejadian mungkin berguna bagi ilmu medis tetapi tak akan banyak gunanya bagi korp. Tidak ada seorang pun yang merasa heran lagi apa yang terjadi dengan WMD (Weapons of Mass Destruction senjata pemusnah massal). WMD tidak pernah ditemukan. Para antropolog yang mengadakan penggalian di Irak mungkin akan menemukannya seratus tahun lagi tetapi mereka akan memberikan semacam “rasa puas” yang dibutuhkan oleh kalangan yang haus perang.
Pada saat peristiwa Pearl Harbour, Franklin Delano Roosevelt berpidato di depan rakyat AS menyatakan bahwa “tidak ada yang kita takutkan kecuali rasa takut itu sendiri.” Sekarang rasa takut itu digunakan untuk menggiring rakyat dan para pejabat AS yang haus perang dapat mengatakan bahwa mereka tidak hanya memiliki keperkasaan militer tetapi juga ketakutan dalam waktu yang sama.
Richard Clarke memberikan pengakuan dengan nada permintaan maaf, yang lebih mirip dengan doa pertobatan: “Pemerintah telah mengecewakan kalian. Mereka yang dipercaya untuk melindungi kalian telah mengecewakan kalian. Dan saya sendiri telah mengecewakan kalian,” ujarnya. Tidak ada pengakuan semacam itu keluar dari Bush dan Blair, apalagi rasa bersalah yang mendalam. Mereka terus bergerak maju dari senjata pemusnah massal ke perubahan rezim ke demokrasi.
Irak telah ditentramkan dan dimerdekakan. Beberapa waktu lalu terjadi pembunuhan mengerikan atas empat pengawal pribadi kontraktor AS oleh massa yang marah di Fallujah. Rekaman video pembunuhan dan penyiksaan atas tubuh-tubuh mereka itu dianggap terlalu mengerikan untuk dipertontonkan di televisi. Ini bukanlah kemarahan biasa, ini murni timbul dari rasa benci yang berasal dari dalam rasa putus-asa, dan kekecewaan. Apa yang sebenarnya terjadi?
Seorang juru bicara militer AS hanya bisa mengatakan bahwa segalanya akan tampak buruk sebelum menjadi lebih baik. Terdengar sebuah gaung dari Vietnam. Di sana juga dulu dikatakan bahwa semuanya akan berjalan dengan baik. Kita diberitahu bahwa membandingkan Irak dengan Vietnam adalah analogi palsu dan tidak pas. Pernahkan ada perang yang berakhir dengan happy ending? Perang Dunia I menciptakan Hitler, Perang Dunia II memproduksi Perang Dingin dan runtuhnya Uni Soviet dengan bantuan Usamah bin Ladin dan kalangan Mujahidinnya menciptakan Alqaidah.
George Crile dalam bukunya My Enemy’s Enemy menuturkan kisah operasi rahasia terbesar sepanjang sejarah. CIA mempersenjatai kelompok Mujahidin. Dan tak lama kemudian keanehan pun terjadi: Mujahidin yang sama berubah menjadi militan dan diburu di seluruh dunia sebagai kelompok teroris. Mengapa komisi 11/9 tidak menginvestigasi bagaimana dan mengapa semua itu bisa terjadi? Siapa yang mengubah Usamah bin Ladin dari seorang kawan menjadi lawan abadi?
Hal yang sebaliknya terjadi dalam kasus Kolonel Khaddafi. Ronald Reagan menjulukinya sebagai seekor “anjing gila.” Pesawat pengebom AS tinggal landas dari pangkalan yang diberikan oleh Margaret Thatcher Inggris dan mengebom rumah Khaddafi untuk membunuhnya. Dia selamat akan tetapi tidak demikian dengan putrinya.
Khaddafi bagaikan seorang pendosa yang telah melihat cahaya dan dia telah menyerahkan proyek WMD-nya, saat ini tidak ada lagi bekas-bekas WMD yang ditemukan, dan dia pun mendapat anugerah kunjungan resmi dari Tony Blair sendiri. Khaddafi telah mengecam terorisme dan saat ini mendapat rapor baik dari coalition of the willing serta menjadi anggota terhormat dalam perang melawan terorisme. Mengapa tekanan dan diplomasi yang sama tidak digunakan pada Saddam Hussein?
Langkah mundur kontraterorisme Perang melawan teror telah mengalami kemunduran sangat besar yang disebabkan oleh veto AS atas resolusi DK PBB yang mengecam pembunuhan terencana atas Syekh Ahmed Yassin, pendiri Hamas. Ariel Sharon yang merasa mendapat dukungan saat ini telah melirik Yasser Arafat sebagai target besar berikutnya. Adakah perang melawan teror hanyalah alasan belaka untuk memuluskan ambisi Israel?
Ariel Sharon menjadi kendala utama perdamaian di Timur Tengah dan apabila dia terus dimanja AS, maka prospek perdamaian di kawasan ini hanyalah ilusi belaka. Hanya AS yang dapat membuat Israel untuk berpikir waras. Kalangan kawan dekat Amerika, termasuk Tony Blair, hendaknya dapat meyakinkan AS bahwa perlindungannya yang membuta atas Israel merupakan ancaman yang sama berbahayanya dengan Alqaidah.
Perdamaian
DALAM pemberian penghargaan Nobel Perdamaian tahun ini kepada pengacara serta aktivis HAM Iran Shirin Ebadi, Komite Nobel Norwegia telah memberikan wewenang kepada wanita umumnya dan perempuan Iran khususnya pada suatu poin yang krusial saat sedang terjadi ketegangan antara kalangan reformis dan konservatif, baik di Iran maupun di dunia Islam secara luas.
Anugerah Nobel untuk yang pertama diberikan kepada seorang muslimah tersebut berimplikasi sangat jauh, khususnya pascatragedi 11/9, tentang Islam dan bisa memberikan dorongan bagi peningkatan level introspeksi serta perubahan dalam masyarakat Islam yang sedang mencoba mengatasi berbagai problem akibat tragedi tersebut. Termasuk, menyikapi perang oleh AS di Afghanistan dan Iraq.Hadiah Nobel, khususnya yang berkaitan dengan anugerah untuk perdamaian dan literatur, biasanya bersifat politis, tak terkecuali dalam hal ini anugerah untuk Ebadi. Kalangan garis keras di Iran bersikap cukup kritis atas pengakuan tersebut. Sedangkan media di Iran tampak tidak seragam. Mereka yang pro-reformasi dalam sistem Iran tentunya menyambut pengumuman itu dan memuji keberanian serta keterusterangan Ebadi. Di sisi lain, kalangan garis keras justru menekankan perhatian terhadap adanya fakta bahwa Ebadi adalah bekas terdakwa dan mengisyaratkan bahwa dia berkonspirasi dengan organisasi luar (istilah eufemisme untuk Barat) di bawah kedok HAM dengan tujuan meruntuhkan kalangan klerikal Iran.
Tidak diragukan lagi, anugerah bagi Ebadi tersebut kembali mencuatkan perbedaan antara kalangan reformis yang disimbolkan dalam figur presiden Khatami dan klik konservatif yang terwakili dalam figur Ayatullah Khamenei. Khamenei saat ini sedang berada di posisi puncak dispensasi politis teokratis satu-satunya di dunia. Yakni, suatu sistem negara yang menjadi karakteristik khas aliran Syiah dan masih didukung penuh gairah oleh kalangan prorevolusi Islam 1979 pimpinan Khamenei yang berhasil menjatuhkan Shah Reza Pahlevi.
Seperti kita maklumi, pandangan konservatif selalu bersifat hitam putih dan menganggap Paman Sam sebagai setan besar serta menentang keberadaan Israel. Di sisi lain, tim Presiden Bush melihat Iran sebagai bagian dari poros setan. Dan, pandangan regional mereka merupakan kelanjutan trauma sandera 1979-1981 di kedutaan AS di Teheran.
Pantas diingat kembali, Iran adalah penerus kesan peradaban Persia yang bisa dikilas balik sejak periode sebelum Masehi. Fanatisme Islam Syiah sebenarnya hanya merupakan fenomena mutakhir. Secara historis, wanita Iran jauh lebih emansipatif dibandingkan perempuan lain di kawasan tersebut dan di bawah Shah Iran. Kalangan elite Iran mengadopsi kode sosial dan norma-norma yang lebih selaras dengan Paris.
Menariknya, perilaku misoginis menjadi lebih tampak di bawah rezim Khamenei. Kalangan wanita dipaksa mengenakan jilbab, melepaskan baju tradisional, dan mengecam cara berpakaian ala Barat. Pada waktu yang sama, wanita dilarang terjun dalam profesi tertentu. Dan, Ebadi sebagai hakim wanita pertama dalam sistem pengadilan Iran harus menanggalkan jabatannya.
Namun, wanita pemberani itu kemudian menjadi pengacara serta menangani berbagai kasus yang berkenaan dengan wanita dan anak-anak yang dieksploitasi klerikal Iran serta polisi agama. Dia kemudian ditahan. Itulah yang dimaksud dengan deskripsi bekas terdakwa tersebut.
Ada dua implikasi jangka panjang mengenai anugerah Nobel Perdamaian bagi Ebadi itu. Pertama, adanya kesan bahwa hal tersebut akan mempengaruhi perkembangan di Iran. Dan, pada waktu yang sama, respons awal Ebadi cukup signifikan disimak. Dia tampil di Paris tanpa mengenakan jilbab dan tampak teratur menanggapi berbagai pertanyaan. Dia menegaskan bahwa tidak ada perbedaan antara Islam dan HAM.
Ebadi menambahkan, kaum agamawan di Iran hendaknya menyambut gembira anugerah Nobel tersebut. Sebab, itu bermakna bahwa mereka bisa menjadi muslim dan berkomitmen terhadap nilai-nilai HAM. Hal itu merupakan pandangan yang dipenuhi impor sosio-politik bagi rezim-rezim otokratis dan otoritarian di banyak negara muslim.
Tetapi, pada waktu yang sama, Ebadi mengirimkan pesan yang jelas kepada Washington bahwa dia menentang berbagai bentuk intervensi atau imposisi dari luar. Dia berpendapat, perjuangan menegakkan HAM hendaknya dilakukan di Iran dan oleh rakyat Iran. Peringatan tersebut sangat signifikan karena mengundang perhatian terhadap anggapan negatif kalangan Barat yang diarahkan kepada negara dan masyarakat Islam secara umum.
Ebadi mengingatkan kembali bahwa Islam bukan agama monolit. Yakni, spesifikasi kontekstual pemeluk Islam merupakan fenomena umum di dunia Islam. Contohnya, perilaku muslim di Arab Saudi sangat berbeda dari mereka yang di Indonesia. Yang lebih spesifik, praktik keseharian umat Islam di Aceh tentu berbeda dari muslim Jawa atau Bali dan seterusnya.
Kedua, umat Islam terbagi dalam berbagai kelompok yang berbeda-beda. Dan, di situlah relevansi wanita patut disorot. Pascatragedi 11/9, prioritas utama dunia adalah memerangi terorisme. Dan, fokus saat ini adalah cara mendistorsi ajaran Islam. Penggunaan kekuatan militer besar-besaran dalam menaggulangi terorisme akan berdampak sangat terbatas. Akhirnya, tantangan yang harus dilakukan adalah cara mengubah pola pikir yang telah terinternalisasi selama berabad-abad.
Itu merupakan ritme kemasyarakatan yang sudah tertanam mendalam. Dan, apabila perang melawan terorisme ingin mencapai kemajuan berarti, wanita secara umum dan wanita dari kalangan masyakarat muslim khususnya harus didorong untuk menanamkan etos Islam yang liberal serta toleran. Dalam banyak hal, keluarga merupakan madrasah pertama. Wanita memiliki kontribusi yang tidak kecil dalam tahun-tahun dan masa-masa pembentukan individual.
Namun, perubahan-perubahan tersebut harus datang dari dalam. Dan, Ebadi menggarisbawahi spirit itu. Perubahan rezim dalam matriks Islam mungkin mudah. Tapi, perubahan ritme jauh lebih kompleks dan tidak bisa berhasil tanpa wanita. Itulah relevansi anugerah Nobel Perdamaian kepada Ebadi.
Anugerah Nobel untuk yang pertama diberikan kepada seorang muslimah tersebut berimplikasi sangat jauh, khususnya pascatragedi 11/9, tentang Islam dan bisa memberikan dorongan bagi peningkatan level introspeksi serta perubahan dalam masyarakat Islam yang sedang mencoba mengatasi berbagai problem akibat tragedi tersebut. Termasuk, menyikapi perang oleh AS di Afghanistan dan Iraq.Hadiah Nobel, khususnya yang berkaitan dengan anugerah untuk perdamaian dan literatur, biasanya bersifat politis, tak terkecuali dalam hal ini anugerah untuk Ebadi. Kalangan garis keras di Iran bersikap cukup kritis atas pengakuan tersebut. Sedangkan media di Iran tampak tidak seragam. Mereka yang pro-reformasi dalam sistem Iran tentunya menyambut pengumuman itu dan memuji keberanian serta keterusterangan Ebadi. Di sisi lain, kalangan garis keras justru menekankan perhatian terhadap adanya fakta bahwa Ebadi adalah bekas terdakwa dan mengisyaratkan bahwa dia berkonspirasi dengan organisasi luar (istilah eufemisme untuk Barat) di bawah kedok HAM dengan tujuan meruntuhkan kalangan klerikal Iran.
Tidak diragukan lagi, anugerah bagi Ebadi tersebut kembali mencuatkan perbedaan antara kalangan reformis yang disimbolkan dalam figur presiden Khatami dan klik konservatif yang terwakili dalam figur Ayatullah Khamenei. Khamenei saat ini sedang berada di posisi puncak dispensasi politis teokratis satu-satunya di dunia. Yakni, suatu sistem negara yang menjadi karakteristik khas aliran Syiah dan masih didukung penuh gairah oleh kalangan prorevolusi Islam 1979 pimpinan Khamenei yang berhasil menjatuhkan Shah Reza Pahlevi.
Seperti kita maklumi, pandangan konservatif selalu bersifat hitam putih dan menganggap Paman Sam sebagai setan besar serta menentang keberadaan Israel. Di sisi lain, tim Presiden Bush melihat Iran sebagai bagian dari poros setan. Dan, pandangan regional mereka merupakan kelanjutan trauma sandera 1979-1981 di kedutaan AS di Teheran.
Pantas diingat kembali, Iran adalah penerus kesan peradaban Persia yang bisa dikilas balik sejak periode sebelum Masehi. Fanatisme Islam Syiah sebenarnya hanya merupakan fenomena mutakhir. Secara historis, wanita Iran jauh lebih emansipatif dibandingkan perempuan lain di kawasan tersebut dan di bawah Shah Iran. Kalangan elite Iran mengadopsi kode sosial dan norma-norma yang lebih selaras dengan Paris.
Menariknya, perilaku misoginis menjadi lebih tampak di bawah rezim Khamenei. Kalangan wanita dipaksa mengenakan jilbab, melepaskan baju tradisional, dan mengecam cara berpakaian ala Barat. Pada waktu yang sama, wanita dilarang terjun dalam profesi tertentu. Dan, Ebadi sebagai hakim wanita pertama dalam sistem pengadilan Iran harus menanggalkan jabatannya.
Namun, wanita pemberani itu kemudian menjadi pengacara serta menangani berbagai kasus yang berkenaan dengan wanita dan anak-anak yang dieksploitasi klerikal Iran serta polisi agama. Dia kemudian ditahan. Itulah yang dimaksud dengan deskripsi bekas terdakwa tersebut.
Ada dua implikasi jangka panjang mengenai anugerah Nobel Perdamaian bagi Ebadi itu. Pertama, adanya kesan bahwa hal tersebut akan mempengaruhi perkembangan di Iran. Dan, pada waktu yang sama, respons awal Ebadi cukup signifikan disimak. Dia tampil di Paris tanpa mengenakan jilbab dan tampak teratur menanggapi berbagai pertanyaan. Dia menegaskan bahwa tidak ada perbedaan antara Islam dan HAM.
Ebadi menambahkan, kaum agamawan di Iran hendaknya menyambut gembira anugerah Nobel tersebut. Sebab, itu bermakna bahwa mereka bisa menjadi muslim dan berkomitmen terhadap nilai-nilai HAM. Hal itu merupakan pandangan yang dipenuhi impor sosio-politik bagi rezim-rezim otokratis dan otoritarian di banyak negara muslim.
Tetapi, pada waktu yang sama, Ebadi mengirimkan pesan yang jelas kepada Washington bahwa dia menentang berbagai bentuk intervensi atau imposisi dari luar. Dia berpendapat, perjuangan menegakkan HAM hendaknya dilakukan di Iran dan oleh rakyat Iran. Peringatan tersebut sangat signifikan karena mengundang perhatian terhadap anggapan negatif kalangan Barat yang diarahkan kepada negara dan masyarakat Islam secara umum.
Ebadi mengingatkan kembali bahwa Islam bukan agama monolit. Yakni, spesifikasi kontekstual pemeluk Islam merupakan fenomena umum di dunia Islam. Contohnya, perilaku muslim di Arab Saudi sangat berbeda dari mereka yang di Indonesia. Yang lebih spesifik, praktik keseharian umat Islam di Aceh tentu berbeda dari muslim Jawa atau Bali dan seterusnya.
Kedua, umat Islam terbagi dalam berbagai kelompok yang berbeda-beda. Dan, di situlah relevansi wanita patut disorot. Pascatragedi 11/9, prioritas utama dunia adalah memerangi terorisme. Dan, fokus saat ini adalah cara mendistorsi ajaran Islam. Penggunaan kekuatan militer besar-besaran dalam menaggulangi terorisme akan berdampak sangat terbatas. Akhirnya, tantangan yang harus dilakukan adalah cara mengubah pola pikir yang telah terinternalisasi selama berabad-abad.
Itu merupakan ritme kemasyarakatan yang sudah tertanam mendalam. Dan, apabila perang melawan terorisme ingin mencapai kemajuan berarti, wanita secara umum dan wanita dari kalangan masyakarat muslim khususnya harus didorong untuk menanamkan etos Islam yang liberal serta toleran. Dalam banyak hal, keluarga merupakan madrasah pertama. Wanita memiliki kontribusi yang tidak kecil dalam tahun-tahun dan masa-masa pembentukan individual.
Namun, perubahan-perubahan tersebut harus datang dari dalam. Dan, Ebadi menggarisbawahi spirit itu. Perubahan rezim dalam matriks Islam mungkin mudah. Tapi, perubahan ritme jauh lebih kompleks dan tidak bisa berhasil tanpa wanita. Itulah relevansi anugerah Nobel Perdamaian kepada Ebadi.
Teroris
BERITA tentang helikopter Chinook yang ditembak jatuh oleh rudal, menewaskan 16 personel tentara AS (termasuk dua wanita), merupakan kabar buruk bagi AS. Kemudian, Black Hawk ditembak jatuh dekat Tikrit, pada Jumat, menewaskan enam pasukan AS. Berita itu cukup mengkhawatirkan Washington.
Pentagon segera mengerahkan artileri dan serangan udara di Tikrit, di mana kedua helikopter itu diserang. Ini merupakan, salah satu alasannya, kemarahan institusional; Chinooks ditembak jatuh di siang hari bolong, dan saat ini terdapat 25 sampai 30 serangan pada pasukan Amerika Serikat (AS) setiap harinya. Pada bulan Oktober, sebanyak 33 tentara Amerika terbunuh di Irak, lebih dua kali lipat korban pada bulan September; dan bulan November sudah dimulai dengan sangat tidak menyenangkan. Dalam masa tujuh hari bulan November, 35 personel pasukan AS tewas dalam perang gerilya yang efektif dan meluas. Korban kematian AS sudah mendekati angka 400. Artileri dan jet tempur F-16 kembali beroperasi, untuk pertama kalinya sejak George W Bush mengumumkan “Mission Accomplished” pada 1 Mei. Siapa saja yang membaca sejarah mulai melihat kemiripan dengan dua kisah masa lalu.
Pertama dari Vietnam, di mana Pentagon, dengan konsisten dan terkadang brutal, membalas dendam pada warga sipil atas hukuman yang menimpa pasukan militer AS. Di Irak, AS tidak menghadapi tentara kasatmata, dan karena itu menyimpulkan bahwa seluruh Kota Tikrit menjadi target mereka. Apabila tujuan mereka adalah “shock and awe”, AS sama sekali tidak belajar di Irak. Pentagon mengubah warga sipil menjadi musuh mereka.
Sebuah think tank Amerika, Project on Defence Alternatives, telah melakukan survei ekstensif guna memberikan estimasi jumlah rakyat Irak yang terbunuh sejak dimulainya perang Irak dan jatuhnya Baghdad, hasilnya: antara 10.800 dan 15.100 tentara, dan antara 3.200 dan 4.300 warga sipil. Hitungan jumlah korban tahap kedua sekarang sudah dimulai.
Kedua, dari Eropa. Pendudukan Eropa yang pertama atas Irak terjadi pada Perang Dunia I ketika Inggris mengalahkan Turki dan mencapai Baghdad via Basrah. Warga Arab lokal saat itu percaya bahwa mereka sedang dibebaskan dari Turki.
Ketika Inggris menolak pemerintahan independen Arab, seluruh Irak pun bangkit menentang imperialisme Inggris. Senjata dan organisasi kalangan perlawanan waktu itu sama sekali tidak canggih, tetapi Inggris harus mengerahkan Royal Air Force (RAF) dan gas kimiawi sebelum mereka berhasil “menstabilkan” kawasan dan kemudian menyerahkan kekuasaan pada seorang keturunan keluarga Bani Hasyim, Faisal.
Karena itu, hendaknya kita tidak kaget apabila muncul sejumlah kemiripan di kemudian hari. Sudah ada beberapa bisik-bisik yang hendak menjadikan keturunan Bani Hasyim, Pangeran Hasan, yang tidak berhasil menggantikan saudaranya, Raja Hussein di Jordan, menjadi raja Irak yang dapat “diandalkan”. Kita lihat nanti.SAAT ini kita melihat apa yang tidak pernah terpikirkan menjadi realitas yang berkembang di Irak. Salah satu alasan mengapa hal ini tidak terprediksi adalah karena kalangan neokonservatif yang membentuk kebijakan soal Irak buat Bush hampir sama sekali tidak menyembunyikan penghinaannya pada orang Arab, baik rakyat maupun pemerintahnya. Komparasi dengan Vietnam saya kira kurang tepat, tetapi sedikitnya ada kesamaan dalam satu hal: AS tidak memahami lawan-lawannya di Vietnam, dan ia juga tidak tahu siapa atau apa yang mereka lawan di Irak. AS berpikir ia sedang memerangi pasukan “Merah” di Vietnam. Tidak ada satu pun di Washington yang diberi tahu bahwa Cina justru negara yang paling tidak disukai Vietnam. Baik di Vietnam maupun di Irak, “isme” terpenting adalah nasionalisme: Komunisme dan Islam melebur dalam nasionalisme.
Perang AS saat ini adalah melawan sebuah musuh yang singkatnya disebut Al Qaeda. Semua hal dikaitkan dengan Al Qaeda. CNN dan BBC (8/11/03) menyiarkan peringatan dari AS bahwa Al Qaeda kemungkinan “sedang berencana” untuk membajak pesawat kargo. Kedutaan AS di Arab Saudi ditutup karena Al Qaeda. Sejumlah kebebasan di land of freedom dibatasi. Bahkan, Kongres AS sekalipun tidak mendapat informasi memadai karena ketakutan pada Al Qaeda. Budaya berahasia telah berubah menjadi paranoia.
Di sisi lain, apa Al Qaeda itu? Sungguh sulit dipercaya bahwa sebuah organisasi yang dipimpin seseorang yang bersembunyi di pegunungan di Afganistan atau Pakistan, dapat menjadi jaringan internasional yang begitu solid yang dapat mengancam AS, baik antarbenua maupun di jantung AS sendiri. Bagaimana Osama bin Laden berkomunikasi dengan begitu banyak tentara bayangannya yang tersebar, apabila sedikit saja kontak dengan alat teknis dapat dideteksi teknologi AS? Bagaimana Osama dapat mengotaki pembajakan pesawat kargo di AS sekarang?
Al Qaeda tidak lagi mewakili sebuah fakta, tetapi memang ia mewakili sebuah ide. Ia telah menjadi simbol bagi suatu realitas yang mengkhawatirkan AS jauh lebih besar dibanding apa yang pernah diperbuat Osama. Sebagaimana invasi Rusia di Afganistan telah menyinergikan kelompok , atau individu Muslim yang tidak saling terkait, untuk memilih Afganistan sebagai medan tempur mereka, pendudukan AS di Irak telah meyakinkan sejumlah besar Muslim bahwa ancaman atas kemerdekaan negara Islam saat ini datang dari AS. Tidak ada mastermind. Yang ada master-objective.
Salah satu pengakuan yang paling mengejutkan tahun ini adalah bahwa George W Bush merasa kaget ketika pada kunjungan luar negerinya baru-baru ini menyadari bahwa umat Islam tidak menyukainya. Tampaknya Bush disanitasi dari informasi. Ia pasti tidak membaca atau melihat media apa pun. Berbagai berita pasti disuguhkan padanya dalam bentuk kliping.
Menurut Gedung Putih, “rekonstruksi” mulai berjalan baik di Irak, dan ini berarti baik juga buat AS. Pertanyaannya sekarang, mengapa diperlukan konstruksi? Jawabnya jelas, karena adanya destruksi yang diakibatkan oleh perang AS. Diberitakan bahwa sebanyak 87 miliar dollar AS telah dialokasikan untuk Irak. Berapa banyak dari jumlah ini yang akan sampai ke Irak setelah untuk membayar angkatan bersenjata AS? Dan, berapa banyak uang yang dialokasikan untuk kerja sipil akan tersangkut di korporasi AS?
Satu komentar relevan yang dibuat Bush adalah konsekuensi nyata dari perang Irak hanya akan diketahui setelah 50 tahun. Apa yang dikatakannya tidak salah. Sayangnya, konsekuensi itu mungkin akan kurang menyenangkan pada kalangan Gedung Putih saat itu. Bush hendaknya merasa cukup beruntung bahwa saat ini tidak ada demokrasi di 22 negara Arab. Seandainya saja negara Arab memiliki pemerintahan demokratis yang mewakili aspirasi rakyat, akan terdapat 22 negara Arab yang sangat antipati pada Gedung Putih-nya Bush.
Pentagon segera mengerahkan artileri dan serangan udara di Tikrit, di mana kedua helikopter itu diserang. Ini merupakan, salah satu alasannya, kemarahan institusional; Chinooks ditembak jatuh di siang hari bolong, dan saat ini terdapat 25 sampai 30 serangan pada pasukan Amerika Serikat (AS) setiap harinya. Pada bulan Oktober, sebanyak 33 tentara Amerika terbunuh di Irak, lebih dua kali lipat korban pada bulan September; dan bulan November sudah dimulai dengan sangat tidak menyenangkan. Dalam masa tujuh hari bulan November, 35 personel pasukan AS tewas dalam perang gerilya yang efektif dan meluas. Korban kematian AS sudah mendekati angka 400. Artileri dan jet tempur F-16 kembali beroperasi, untuk pertama kalinya sejak George W Bush mengumumkan “Mission Accomplished” pada 1 Mei. Siapa saja yang membaca sejarah mulai melihat kemiripan dengan dua kisah masa lalu.
Pertama dari Vietnam, di mana Pentagon, dengan konsisten dan terkadang brutal, membalas dendam pada warga sipil atas hukuman yang menimpa pasukan militer AS. Di Irak, AS tidak menghadapi tentara kasatmata, dan karena itu menyimpulkan bahwa seluruh Kota Tikrit menjadi target mereka. Apabila tujuan mereka adalah “shock and awe”, AS sama sekali tidak belajar di Irak. Pentagon mengubah warga sipil menjadi musuh mereka.
Sebuah think tank Amerika, Project on Defence Alternatives, telah melakukan survei ekstensif guna memberikan estimasi jumlah rakyat Irak yang terbunuh sejak dimulainya perang Irak dan jatuhnya Baghdad, hasilnya: antara 10.800 dan 15.100 tentara, dan antara 3.200 dan 4.300 warga sipil. Hitungan jumlah korban tahap kedua sekarang sudah dimulai.
Kedua, dari Eropa. Pendudukan Eropa yang pertama atas Irak terjadi pada Perang Dunia I ketika Inggris mengalahkan Turki dan mencapai Baghdad via Basrah. Warga Arab lokal saat itu percaya bahwa mereka sedang dibebaskan dari Turki.
Ketika Inggris menolak pemerintahan independen Arab, seluruh Irak pun bangkit menentang imperialisme Inggris. Senjata dan organisasi kalangan perlawanan waktu itu sama sekali tidak canggih, tetapi Inggris harus mengerahkan Royal Air Force (RAF) dan gas kimiawi sebelum mereka berhasil “menstabilkan” kawasan dan kemudian menyerahkan kekuasaan pada seorang keturunan keluarga Bani Hasyim, Faisal.
Karena itu, hendaknya kita tidak kaget apabila muncul sejumlah kemiripan di kemudian hari. Sudah ada beberapa bisik-bisik yang hendak menjadikan keturunan Bani Hasyim, Pangeran Hasan, yang tidak berhasil menggantikan saudaranya, Raja Hussein di Jordan, menjadi raja Irak yang dapat “diandalkan”. Kita lihat nanti.SAAT ini kita melihat apa yang tidak pernah terpikirkan menjadi realitas yang berkembang di Irak. Salah satu alasan mengapa hal ini tidak terprediksi adalah karena kalangan neokonservatif yang membentuk kebijakan soal Irak buat Bush hampir sama sekali tidak menyembunyikan penghinaannya pada orang Arab, baik rakyat maupun pemerintahnya. Komparasi dengan Vietnam saya kira kurang tepat, tetapi sedikitnya ada kesamaan dalam satu hal: AS tidak memahami lawan-lawannya di Vietnam, dan ia juga tidak tahu siapa atau apa yang mereka lawan di Irak. AS berpikir ia sedang memerangi pasukan “Merah” di Vietnam. Tidak ada satu pun di Washington yang diberi tahu bahwa Cina justru negara yang paling tidak disukai Vietnam. Baik di Vietnam maupun di Irak, “isme” terpenting adalah nasionalisme: Komunisme dan Islam melebur dalam nasionalisme.
Perang AS saat ini adalah melawan sebuah musuh yang singkatnya disebut Al Qaeda. Semua hal dikaitkan dengan Al Qaeda. CNN dan BBC (8/11/03) menyiarkan peringatan dari AS bahwa Al Qaeda kemungkinan “sedang berencana” untuk membajak pesawat kargo. Kedutaan AS di Arab Saudi ditutup karena Al Qaeda. Sejumlah kebebasan di land of freedom dibatasi. Bahkan, Kongres AS sekalipun tidak mendapat informasi memadai karena ketakutan pada Al Qaeda. Budaya berahasia telah berubah menjadi paranoia.
Di sisi lain, apa Al Qaeda itu? Sungguh sulit dipercaya bahwa sebuah organisasi yang dipimpin seseorang yang bersembunyi di pegunungan di Afganistan atau Pakistan, dapat menjadi jaringan internasional yang begitu solid yang dapat mengancam AS, baik antarbenua maupun di jantung AS sendiri. Bagaimana Osama bin Laden berkomunikasi dengan begitu banyak tentara bayangannya yang tersebar, apabila sedikit saja kontak dengan alat teknis dapat dideteksi teknologi AS? Bagaimana Osama dapat mengotaki pembajakan pesawat kargo di AS sekarang?
Al Qaeda tidak lagi mewakili sebuah fakta, tetapi memang ia mewakili sebuah ide. Ia telah menjadi simbol bagi suatu realitas yang mengkhawatirkan AS jauh lebih besar dibanding apa yang pernah diperbuat Osama. Sebagaimana invasi Rusia di Afganistan telah menyinergikan kelompok , atau individu Muslim yang tidak saling terkait, untuk memilih Afganistan sebagai medan tempur mereka, pendudukan AS di Irak telah meyakinkan sejumlah besar Muslim bahwa ancaman atas kemerdekaan negara Islam saat ini datang dari AS. Tidak ada mastermind. Yang ada master-objective.
Salah satu pengakuan yang paling mengejutkan tahun ini adalah bahwa George W Bush merasa kaget ketika pada kunjungan luar negerinya baru-baru ini menyadari bahwa umat Islam tidak menyukainya. Tampaknya Bush disanitasi dari informasi. Ia pasti tidak membaca atau melihat media apa pun. Berbagai berita pasti disuguhkan padanya dalam bentuk kliping.
Menurut Gedung Putih, “rekonstruksi” mulai berjalan baik di Irak, dan ini berarti baik juga buat AS. Pertanyaannya sekarang, mengapa diperlukan konstruksi? Jawabnya jelas, karena adanya destruksi yang diakibatkan oleh perang AS. Diberitakan bahwa sebanyak 87 miliar dollar AS telah dialokasikan untuk Irak. Berapa banyak dari jumlah ini yang akan sampai ke Irak setelah untuk membayar angkatan bersenjata AS? Dan, berapa banyak uang yang dialokasikan untuk kerja sipil akan tersangkut di korporasi AS?
Satu komentar relevan yang dibuat Bush adalah konsekuensi nyata dari perang Irak hanya akan diketahui setelah 50 tahun. Apa yang dikatakannya tidak salah. Sayangnya, konsekuensi itu mungkin akan kurang menyenangkan pada kalangan Gedung Putih saat itu. Bush hendaknya merasa cukup beruntung bahwa saat ini tidak ada demokrasi di 22 negara Arab. Seandainya saja negara Arab memiliki pemerintahan demokratis yang mewakili aspirasi rakyat, akan terdapat 22 negara Arab yang sangat antipati pada Gedung Putih-nya Bush.
Langganan:
Postingan (Atom)
.jpg)