Ekonomi Diprediksi Tumbuh 6,5% di 2011
Politikindonesia - Bank Indonesia mengungkapkan sinyal positif pertumbuhan ekonomi tahun depan. Bank sentral ini memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada 2011 akan berada pada kisaran 6,0%-6,5%. Sementara pertumbuhan hingga akhir tahun ini diprediksi menuju batas atas proyeksi, sebesar 5%,5-6%.
“Ke depan perkembangan ekonomi global dan domestik akan terus membaik. Proyeksi pertumbuhan ekonomi pada 2011 berkisar 6%-6,5%,” ujar Pjs. Gubernur BI, Darmin Nasution di Gedung BI, Senin (05/07).
Darmin mengemukakan inflasi dapat saja terjadi dengan semakin terbatasnya respons sisi penawaran terhadap peningkatan permintaan yang akan terus berlanjut. BI akan terus mewaspadai meningkatnya terus mewaspadai meningkatnya tekanan inflasi. “Langkah BI itu untuk menyesuaikan respon kebijakan moneter yang diperlukan agar inflasi tetap berada pada kisaran sasaran yang ditetapkan, yaitu 5 plus minus 1 persen pada 2010 dan 2011,” jelasnya.
Disisi pertumbuhan kredit, geliat perbankan nasional mulai terlihat signifikan pada Juni 2010. Data yang diungkapkan BI menyebutkan, pertumbuhan kredit perbankan nasional pada Juni 2010 sebesar 18,6 persen year on year (yoy). “Intermediasi perbankan semakin membaik tercermin dari pertumbuhan kredit yang hingga akhir Juni 2010 mencapai 18,6 persen yoy,” ujar Darmin.
Dikatakan Darmin, untuk keseluruhan 2010, pertumbuhan kredit diperkirakan mencapai 22 persen hingga 24 persen. Target kredit sebesar itu melihat aspek meningkatnya keyakinan pelaku ekonomi terhadap prospek perekonomian yang semakin membaik. “BI akan selalu mencermati kondisi di sektor perbankan dan mendorong peningkatan efisiensi perbankan agar fungsi intermediasi dapat dioptimalkan,” tutur dia.
Dikemukakan Darmin, industri perbankan menunjukkan perkembangan yang tetap dan stabil, sebagaimana tercermin pada tingginya rasio kecukupan modal (CAR/Capital Adequacy Ratio) dan terjaganya rasio kredit bermasalah (NPL/Non Performing Loan) gross di bawah lima persen.
Kenaikan ekspor dan investasi diperkirakan akan terus terjadi dan semakin memperkuat kenaikan konsumsi dalam mendukung pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi pada tahun 2010 dan 2011. Untuk 2011, pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan mencapai kisaran enam persen hingga 6,5 persen.
Perbaikan kinerja sektor eksternal antara lain tercermin pada surplus transaksi berjalan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) yang diperkirakan mencapai USD1,75 miliar pada triwulan II-2010, lebih tinggi dari perkiraan semula sebesar USD1,23 miliar. Sementara surplus pada transaksi modal dan finansial juga diperkirakan lebih besar, yaitu mencapai USD3,09 miliar, lebih tinggi dari perkiraan semula sebesar USD1,16 miliar.
Tingginya surplus yang terjadi baik pada neraca transaksi berjalan maupun transaksi modal dan finansial sejalan dengan perbaikan ekonomi global yang disertai kenaikan harga komoditas dunia. Dan mulai meningkatnya arus modal asing karena perbaikan outlook credit rating dan persepsi internasional terhadap Indonesia.
Paket kebijakan yang dikeluarkan Bank Indonesia pada tanggal 15 Juni 2010 juga telah diterima secara positif oleh pelaku pasar baik domestik maupun internasional, dan diyakini akan semakin memperkuat manajemen moneter dan pendalaman pasar keuangan.
Dengan perkembangan tersebut, selama triwulan II-2010, nilai tukar Rupiah secara rata-rata cenderung menguat disertai dengan volatilitas yang menurun. Cadangan devisa Indonesia sampai dengan akhir triwulan II-2010 mencapai USD76,3 miliar atau setara dengan 5,9 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah.
Minggu, 10 April 2011
PENENTUAN HARGA PERMINTAAN DAN PENAWARAN
PENENTUAN HARGA PERMINTAAN DAN PENAWARAN
Dalam suatu permintaan pastilah terlibat suatu penawaran antara orang yang menjual dengan orang yang membeli sehingga terjadi kesepakatan antara kedua-duanya untuk melakuakan transaksi rekan kerja atau rekan bisnis.
Definisi dari permintaan yaitu sejumlah barang yang akan dibeli atau diminta pada suatu harga dan waktu tertentu oleh pelaku bisnis maupun para konsumen yang hanya mengkonsumsi barang tersebut. Definisi penawaran yaitu sejumlah barang yang dijual atau ditawakan dengan harga dan waktu tertentu oleh produsen yang menjualnya terhadap konsumen.
Sedikit contoh dalam hal ini dipasar cisalak dimana banyak penjual yang melakukan penjualan barang dengan transaksi dan harga tawar-menawar antara pembeli dan penjual, penjual ingin mendapatkan laba dari penualannya dan pembeli ingin mendapatkan harga yang murah untuk dapat dijual kembali dan memperoleh laba yang sesuai.
kurva tingkat permintan dan tingkat penawaran:
Melakukan transaksi jual-beli pasti memiliki Hukum permintaan dan penawaran, apabila penawaran yang ditawarkan penjual menarik hati pembeli transaksi tersebut akan berlanjut sampai menjadi rekan bisnis. Dimana semakin murah harga yang di tawarkan dan kualitas barang tersebut bagus dan sesuai permintaan konsumen maka semakin banyak permintaan pembeli ataupun sebaliknya.
Semua itu dilakukan karena suatu faktor untuk mencari laba (keuntungan) semaksimal mungkin dari harga yang telah di tawarkan. Apabila harga yang di tawarkan tinggi maka semakin sulit bagi produsen untuk menjualnya dan berkurangnya pembeli pada barangb yang ditawarkan.
faktor faktor yang mempengaruhi tingkat permintaan ( demand) yaitu :
v prilaku konsumen
v ketersedian dan harga barang sejenis pengganti dan pelengkap
v penghasilan konsumen
v perkiraan harga untuk masa yang akan datang
v intensitas kebutuhan konsumen
faktor faktor yang mempengaruhi tingkat penawaran (suplay)
v Biaya produksi dan teknologi yang digunakan
v Tujuan Perusahaan
v Pajak
v Ketersediaan dan harga barang pengganti
v Prediksi / perkiraan harga di masa depan
Tentunya dalam melakukan transaksi penjualan barang apapun pasti para penjual harus telaten dalam menentukan harga yang akan di pasarkan karena salah sedikit saja dapat menggeser banyaknya permintaan. Dimana seharussnya mendapatkan untuk karena banyaknya permintaan, tetapi apanbila terjadi kesalahan dalam pemasaran harga dapat menperkecil keuntungan penjual.
Dari kualitas barang yang di pasarkan harus mendukung seperti barang yang di pasarkan memiliki kualitas yang baik karena pastinya para pembeli menginginkan kepuasan dalam hal tersebut. Contohnya saja dalam menjual bawang putih perkarung jumlah kilogram yang bawang, kualitas barang, harus di perhatikan betul sehingga para pembeli tidak kecewa.
Inilah salah satu contoh suatu proses permintaan dan penawaran dalam dunia bisnis, bisnis yang tidak hanya melingkupi satu bidang melainkan banyak bidsang. Yang memakai sistem permintaan dan penawaran.
Dalam suatu permintaan pastilah terlibat suatu penawaran antara orang yang menjual dengan orang yang membeli sehingga terjadi kesepakatan antara kedua-duanya untuk melakuakan transaksi rekan kerja atau rekan bisnis.
Definisi dari permintaan yaitu sejumlah barang yang akan dibeli atau diminta pada suatu harga dan waktu tertentu oleh pelaku bisnis maupun para konsumen yang hanya mengkonsumsi barang tersebut. Definisi penawaran yaitu sejumlah barang yang dijual atau ditawakan dengan harga dan waktu tertentu oleh produsen yang menjualnya terhadap konsumen.
Sedikit contoh dalam hal ini dipasar cisalak dimana banyak penjual yang melakukan penjualan barang dengan transaksi dan harga tawar-menawar antara pembeli dan penjual, penjual ingin mendapatkan laba dari penualannya dan pembeli ingin mendapatkan harga yang murah untuk dapat dijual kembali dan memperoleh laba yang sesuai.
kurva tingkat permintan dan tingkat penawaran:
Melakukan transaksi jual-beli pasti memiliki Hukum permintaan dan penawaran, apabila penawaran yang ditawarkan penjual menarik hati pembeli transaksi tersebut akan berlanjut sampai menjadi rekan bisnis. Dimana semakin murah harga yang di tawarkan dan kualitas barang tersebut bagus dan sesuai permintaan konsumen maka semakin banyak permintaan pembeli ataupun sebaliknya.
Semua itu dilakukan karena suatu faktor untuk mencari laba (keuntungan) semaksimal mungkin dari harga yang telah di tawarkan. Apabila harga yang di tawarkan tinggi maka semakin sulit bagi produsen untuk menjualnya dan berkurangnya pembeli pada barangb yang ditawarkan.
faktor faktor yang mempengaruhi tingkat permintaan ( demand) yaitu :
v prilaku konsumen
v ketersedian dan harga barang sejenis pengganti dan pelengkap
v penghasilan konsumen
v perkiraan harga untuk masa yang akan datang
v intensitas kebutuhan konsumen
faktor faktor yang mempengaruhi tingkat penawaran (suplay)
v Biaya produksi dan teknologi yang digunakan
v Tujuan Perusahaan
v Pajak
v Ketersediaan dan harga barang pengganti
v Prediksi / perkiraan harga di masa depan
Tentunya dalam melakukan transaksi penjualan barang apapun pasti para penjual harus telaten dalam menentukan harga yang akan di pasarkan karena salah sedikit saja dapat menggeser banyaknya permintaan. Dimana seharussnya mendapatkan untuk karena banyaknya permintaan, tetapi apanbila terjadi kesalahan dalam pemasaran harga dapat menperkecil keuntungan penjual.
Dari kualitas barang yang di pasarkan harus mendukung seperti barang yang di pasarkan memiliki kualitas yang baik karena pastinya para pembeli menginginkan kepuasan dalam hal tersebut. Contohnya saja dalam menjual bawang putih perkarung jumlah kilogram yang bawang, kualitas barang, harus di perhatikan betul sehingga para pembeli tidak kecewa.
Inilah salah satu contoh suatu proses permintaan dan penawaran dalam dunia bisnis, bisnis yang tidak hanya melingkupi satu bidang melainkan banyak bidsang. Yang memakai sistem permintaan dan penawaran.
Budget line menurut al - qur'an
Arasy Alimudin peduli UMKM
Bangsa ini akan maju jika entreprenuernya minimal 2 %,sedangkan Indonesia masih 0,18%.Mari kita ciptakan entrepreneur2 Muda khususnya dikalangan mahasiswa dan sarjana agar bangsa ini maju dan sejahtera
* Home
Anda Pengunjung ke:
tracking stats
Satellite broadband
Pengunjung Blog Saya
Locations of visitors to this page
Pengunjung Blog Hari ini
Mengenai Saya
Foto Saya
Lihat profil lengkapku
My activity
Pemberdayaan UMKM Wanita
Link Wirausaha
* www.depkop.go.id
* umkm-ekon.org
* www.asme.org.sg
* www.smecda.com
* www.businessworld.in
* www.infobis.net
* salamfranchise.com
* www.rumahperubahan.com
* www.pengusahasukses.com
* wirausahamandiri.co.id
* www.eastjavabiz.org
* www.ukmku.com
* http://waralabaku.com
* http://momentumpro.blogspot.com
* http://tabloidpeluang.blogspot.com
* http://www.majalahfranchise.com
* http://fenaro.narotama.ac.id
Subscribe
RSS Feed (xml)
Powered By
Skin Design:
Free Blogger Skins
Powered by Blogger
Blog ini
Di-link Dari Sini
Web
Blog ini
Di-link Dari Sini
Web
Selasa, 23 November 2010
Budget Line Menurut Al-Quran Menghindarkan Kita Berperilaku Merugi
Budget line atau garis anggaran adalah sebuah teori yang dikembangkan berdasarkan teori perilaku konsumen dimana pada teori perilaku konsumen ada dua pendekatan yakni :
1. Pendekatan Marginal Utility (Cardinal), beranggapan bahwa kepuasan konsumen dapat diukur dengan satu satuan, misalnya uang.
2. Pendekatan Indifference Curve (Ordinal) yang beranggapan bahwa kepuasan konsumen tidak dapat diukur dengan satu satuan. Tingkat kepuasan konsumen hanya dapat dinyatakan lebih tinggi atau lebih rendah.
Dalam pendekatan Marginal Utility digunakan anggapan sebagai berikut :
1. Utility bisa diukur dengan uang.
2. Hukum Gossen (The Law Of Diminishing Returns) berlaku yang menyatakan bahwa "Semakin banyak sesuatu barang dikonsumsi, maka tambahan kepuasan yang diperoleh dari setiap satuan tambahan yang dikonsumsikan akan menurun".
3. Konsumen berusaha memaksimumkan kepuasan.
Total Utility adalah seluruh kepuasan yang diperoleh dari mengkonsumsi sejumlah barang tertentu. Marginal Utility adalah tambahan atau pengurangan kepuasan sebagai akibat dari pertambahan atau pengurangan satu unit barang tertentu.
Asumsi dasar teori utility ordinal
a. Rasionalitas artinya konsumen akan berusaha meningkatkan atau memilih tingkat kepuasan yang tinggi.
c. Nilai guna tergantung pada jumlah barang yang dikonsumsi
d. Transivitas artinya konsumen akan menjatuhkan pada pilihan yang terbaik dan bebeberapa pilihan
Budget line merupakan garis anggaran yang menghubungkan kombinasi kebutuhan yang bisa dipenuhi oleh konsumen dengan anggaran yang dimilikinya,atau dalam kata lain kepuasan maksimum dibatasi oleh anggaran atau dana yang dimiliki
Sehinggan perubahan-perubahan harga yang terjadi yang mempengaruhi keseimbangan pemaksimuman kepuasan, jika titik-titik dari perubahan harga tersebut dihubungkan,maka akan terjadi suatu kurva yang disebut Garis Harga Konsumsi yang menunjukkan tingkat kepuasan yang semakin berkurang. Sedangkan perubahan pendapatan disebut Garis Pendapatan Konsumsi akan mempengaruhi pemaksimuman kepuasan yang menunjukkan tingkat kepuasan yang semakin meningkat.
Dalam kaitannya dengan budget line Allah SWT sudah mengajarkan kepada kita melalui firmanNya dalam QS. al-Isra’: 26-27 “Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.Sesungguhnya orang-orang yang menyia-nyiakan harta (pemboros) itu seperti keadaan syetan”
Pada Ayat ini Allah mengajarkan kepada kita bagaimana seharusnya kita menggunakan atau membelanjakan anggaran yang kita miliki meliputi :
1.Allah memerintahkan kepada kita untuk mendahulukan pos belanja rutin dari setiap anggaran yang kita miliki.
2.Mendahulukan Kebutuhan khususnya yang bersifat mendesak dan menghindari distorsi keinginan dalam pemenuhan kebutuhan.
3. Tidak bersifat Boros atau dalam artian belanjakan anggaran kita secara efisien yakni tepat guna memiliki kemanfaatan yang tinggi (niliai utility yang tinggi baik margin utility ataupun total utility).
Dalam ayat yang lain Allah juga mengajarkan kepada kita supaya mendapatkan keberuntungan maka belanjakanlah anggaran yang kita miliki dengan perencanaan yang tepat,menghindari biaya entertainment yang merugikan,berkorban untuk benda yang tidak dapat memberi manfaat(berhala/benda mati, terlebih belanja tersebut dengan hutang),untuk berspekulasi yakni membelanjakan untuk sesuatu yang tidak pasti/mengundi nasib,sebagaimana Fiman Allah dalam QS. Al-Maidah: 90:
“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya meminum khamr, berjudi, berkorban untuk berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.”
Bangsa ini akan maju jika entreprenuernya minimal 2 %,sedangkan Indonesia masih 0,18%.Mari kita ciptakan entrepreneur2 Muda khususnya dikalangan mahasiswa dan sarjana agar bangsa ini maju dan sejahtera
* Home
Anda Pengunjung ke:
tracking stats
Satellite broadband
Pengunjung Blog Saya
Locations of visitors to this page
Pengunjung Blog Hari ini
Mengenai Saya
Foto Saya
Lihat profil lengkapku
My activity
Pemberdayaan UMKM Wanita
Link Wirausaha
* www.depkop.go.id
* umkm-ekon.org
* www.asme.org.sg
* www.smecda.com
* www.businessworld.in
* www.infobis.net
* salamfranchise.com
* www.rumahperubahan.com
* www.pengusahasukses.com
* wirausahamandiri.co.id
* www.eastjavabiz.org
* www.ukmku.com
* http://waralabaku.com
* http://momentumpro.blogspot.com
* http://tabloidpeluang.blogspot.com
* http://www.majalahfranchise.com
* http://fenaro.narotama.ac.id
Subscribe
RSS Feed (xml)
Powered By
Skin Design:
Free Blogger Skins
Powered by Blogger
Blog ini
Di-link Dari Sini
Web
Blog ini
Di-link Dari Sini
Web
Selasa, 23 November 2010
Budget Line Menurut Al-Quran Menghindarkan Kita Berperilaku Merugi
Budget line atau garis anggaran adalah sebuah teori yang dikembangkan berdasarkan teori perilaku konsumen dimana pada teori perilaku konsumen ada dua pendekatan yakni :
1. Pendekatan Marginal Utility (Cardinal), beranggapan bahwa kepuasan konsumen dapat diukur dengan satu satuan, misalnya uang.
2. Pendekatan Indifference Curve (Ordinal) yang beranggapan bahwa kepuasan konsumen tidak dapat diukur dengan satu satuan. Tingkat kepuasan konsumen hanya dapat dinyatakan lebih tinggi atau lebih rendah.
Dalam pendekatan Marginal Utility digunakan anggapan sebagai berikut :
1. Utility bisa diukur dengan uang.
2. Hukum Gossen (The Law Of Diminishing Returns) berlaku yang menyatakan bahwa "Semakin banyak sesuatu barang dikonsumsi, maka tambahan kepuasan yang diperoleh dari setiap satuan tambahan yang dikonsumsikan akan menurun".
3. Konsumen berusaha memaksimumkan kepuasan.
Total Utility adalah seluruh kepuasan yang diperoleh dari mengkonsumsi sejumlah barang tertentu. Marginal Utility adalah tambahan atau pengurangan kepuasan sebagai akibat dari pertambahan atau pengurangan satu unit barang tertentu.
Asumsi dasar teori utility ordinal
a. Rasionalitas artinya konsumen akan berusaha meningkatkan atau memilih tingkat kepuasan yang tinggi.
c. Nilai guna tergantung pada jumlah barang yang dikonsumsi
d. Transivitas artinya konsumen akan menjatuhkan pada pilihan yang terbaik dan bebeberapa pilihan
Budget line merupakan garis anggaran yang menghubungkan kombinasi kebutuhan yang bisa dipenuhi oleh konsumen dengan anggaran yang dimilikinya,atau dalam kata lain kepuasan maksimum dibatasi oleh anggaran atau dana yang dimiliki
Sehinggan perubahan-perubahan harga yang terjadi yang mempengaruhi keseimbangan pemaksimuman kepuasan, jika titik-titik dari perubahan harga tersebut dihubungkan,maka akan terjadi suatu kurva yang disebut Garis Harga Konsumsi yang menunjukkan tingkat kepuasan yang semakin berkurang. Sedangkan perubahan pendapatan disebut Garis Pendapatan Konsumsi akan mempengaruhi pemaksimuman kepuasan yang menunjukkan tingkat kepuasan yang semakin meningkat.
Dalam kaitannya dengan budget line Allah SWT sudah mengajarkan kepada kita melalui firmanNya dalam QS. al-Isra’: 26-27 “Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.Sesungguhnya orang-orang yang menyia-nyiakan harta (pemboros) itu seperti keadaan syetan”
Pada Ayat ini Allah mengajarkan kepada kita bagaimana seharusnya kita menggunakan atau membelanjakan anggaran yang kita miliki meliputi :
1.Allah memerintahkan kepada kita untuk mendahulukan pos belanja rutin dari setiap anggaran yang kita miliki.
2.Mendahulukan Kebutuhan khususnya yang bersifat mendesak dan menghindari distorsi keinginan dalam pemenuhan kebutuhan.
3. Tidak bersifat Boros atau dalam artian belanjakan anggaran kita secara efisien yakni tepat guna memiliki kemanfaatan yang tinggi (niliai utility yang tinggi baik margin utility ataupun total utility).
Dalam ayat yang lain Allah juga mengajarkan kepada kita supaya mendapatkan keberuntungan maka belanjakanlah anggaran yang kita miliki dengan perencanaan yang tepat,menghindari biaya entertainment yang merugikan,berkorban untuk benda yang tidak dapat memberi manfaat(berhala/benda mati, terlebih belanja tersebut dengan hutang),untuk berspekulasi yakni membelanjakan untuk sesuatu yang tidak pasti/mengundi nasib,sebagaimana Fiman Allah dalam QS. Al-Maidah: 90:
“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya meminum khamr, berjudi, berkorban untuk berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.”
Budget line menurut al - qur'an
Arasy Alimudin peduli UMKM
Bangsa ini akan maju jika entreprenuernya minimal 2 %,sedangkan Indonesia masih 0,18%.Mari kita ciptakan entrepreneur2 Muda khususnya dikalangan mahasiswa dan sarjana agar bangsa ini maju dan sejahtera
* Home
Anda Pengunjung ke:
tracking stats
Satellite broadband
Pengunjung Blog Saya
Locations of visitors to this page
Pengunjung Blog Hari ini
Mengenai Saya
Foto Saya
Lihat profil lengkapku
My activity
Pemberdayaan UMKM Wanita
Link Wirausaha
* www.depkop.go.id
* umkm-ekon.org
* www.asme.org.sg
* www.smecda.com
* www.businessworld.in
* www.infobis.net
* salamfranchise.com
* www.rumahperubahan.com
* www.pengusahasukses.com
* wirausahamandiri.co.id
* www.eastjavabiz.org
* www.ukmku.com
* http://waralabaku.com
* http://momentumpro.blogspot.com
* http://tabloidpeluang.blogspot.com
* http://www.majalahfranchise.com
* http://fenaro.narotama.ac.id
Subscribe
RSS Feed (xml)
Powered By
Skin Design:
Free Blogger Skins
Powered by Blogger
Blog ini
Di-link Dari Sini
Web
Blog ini
Di-link Dari Sini
Web
Selasa, 23 November 2010
Budget Line Menurut Al-Quran Menghindarkan Kita Berperilaku Merugi
Budget line atau garis anggaran adalah sebuah teori yang dikembangkan berdasarkan teori perilaku konsumen dimana pada teori perilaku konsumen ada dua pendekatan yakni :
1. Pendekatan Marginal Utility (Cardinal), beranggapan bahwa kepuasan konsumen dapat diukur dengan satu satuan, misalnya uang.
2. Pendekatan Indifference Curve (Ordinal) yang beranggapan bahwa kepuasan konsumen tidak dapat diukur dengan satu satuan. Tingkat kepuasan konsumen hanya dapat dinyatakan lebih tinggi atau lebih rendah.
Dalam pendekatan Marginal Utility digunakan anggapan sebagai berikut :
1. Utility bisa diukur dengan uang.
2. Hukum Gossen (The Law Of Diminishing Returns) berlaku yang menyatakan bahwa "Semakin banyak sesuatu barang dikonsumsi, maka tambahan kepuasan yang diperoleh dari setiap satuan tambahan yang dikonsumsikan akan menurun".
3. Konsumen berusaha memaksimumkan kepuasan.
Total Utility adalah seluruh kepuasan yang diperoleh dari mengkonsumsi sejumlah barang tertentu. Marginal Utility adalah tambahan atau pengurangan kepuasan sebagai akibat dari pertambahan atau pengurangan satu unit barang tertentu.
Asumsi dasar teori utility ordinal
a. Rasionalitas artinya konsumen akan berusaha meningkatkan atau memilih tingkat kepuasan yang tinggi.
c. Nilai guna tergantung pada jumlah barang yang dikonsumsi
d. Transivitas artinya konsumen akan menjatuhkan pada pilihan yang terbaik dan bebeberapa pilihan
Budget line merupakan garis anggaran yang menghubungkan kombinasi kebutuhan yang bisa dipenuhi oleh konsumen dengan anggaran yang dimilikinya,atau dalam kata lain kepuasan maksimum dibatasi oleh anggaran atau dana yang dimiliki
Sehinggan perubahan-perubahan harga yang terjadi yang mempengaruhi keseimbangan pemaksimuman kepuasan, jika titik-titik dari perubahan harga tersebut dihubungkan,maka akan terjadi suatu kurva yang disebut Garis Harga Konsumsi yang menunjukkan tingkat kepuasan yang semakin berkurang. Sedangkan perubahan pendapatan disebut Garis Pendapatan Konsumsi akan mempengaruhi pemaksimuman kepuasan yang menunjukkan tingkat kepuasan yang semakin meningkat.
Dalam kaitannya dengan budget line Allah SWT sudah mengajarkan kepada kita melalui firmanNya dalam QS. al-Isra’: 26-27 “Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.Sesungguhnya orang-orang yang menyia-nyiakan harta (pemboros) itu seperti keadaan syetan”
Pada Ayat ini Allah mengajarkan kepada kita bagaimana seharusnya kita menggunakan atau membelanjakan anggaran yang kita miliki meliputi :
1.Allah memerintahkan kepada kita untuk mendahulukan pos belanja rutin dari setiap anggaran yang kita miliki.
2.Mendahulukan Kebutuhan khususnya yang bersifat mendesak dan menghindari distorsi keinginan dalam pemenuhan kebutuhan.
3. Tidak bersifat Boros atau dalam artian belanjakan anggaran kita secara efisien yakni tepat guna memiliki kemanfaatan yang tinggi (niliai utility yang tinggi baik margin utility ataupun total utility).
Dalam ayat yang lain Allah juga mengajarkan kepada kita supaya mendapatkan keberuntungan maka belanjakanlah anggaran yang kita miliki dengan perencanaan yang tepat,menghindari biaya entertainment yang merugikan,berkorban untuk benda yang tidak dapat memberi manfaat(berhala/benda mati, terlebih belanja tersebut dengan hutang),untuk berspekulasi yakni membelanjakan untuk sesuatu yang tidak pasti/mengundi nasib,sebagaimana Fiman Allah dalam QS. Al-Maidah: 90:
“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya meminum khamr, berjudi, berkorban untuk berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.”
Bangsa ini akan maju jika entreprenuernya minimal 2 %,sedangkan Indonesia masih 0,18%.Mari kita ciptakan entrepreneur2 Muda khususnya dikalangan mahasiswa dan sarjana agar bangsa ini maju dan sejahtera
* Home
Anda Pengunjung ke:
tracking stats
Satellite broadband
Pengunjung Blog Saya
Locations of visitors to this page
Pengunjung Blog Hari ini
Mengenai Saya
Foto Saya
Lihat profil lengkapku
My activity
Pemberdayaan UMKM Wanita
Link Wirausaha
* www.depkop.go.id
* umkm-ekon.org
* www.asme.org.sg
* www.smecda.com
* www.businessworld.in
* www.infobis.net
* salamfranchise.com
* www.rumahperubahan.com
* www.pengusahasukses.com
* wirausahamandiri.co.id
* www.eastjavabiz.org
* www.ukmku.com
* http://waralabaku.com
* http://momentumpro.blogspot.com
* http://tabloidpeluang.blogspot.com
* http://www.majalahfranchise.com
* http://fenaro.narotama.ac.id
Subscribe
RSS Feed (xml)
Powered By
Skin Design:
Free Blogger Skins
Powered by Blogger
Blog ini
Di-link Dari Sini
Web
Blog ini
Di-link Dari Sini
Web
Selasa, 23 November 2010
Budget Line Menurut Al-Quran Menghindarkan Kita Berperilaku Merugi
Budget line atau garis anggaran adalah sebuah teori yang dikembangkan berdasarkan teori perilaku konsumen dimana pada teori perilaku konsumen ada dua pendekatan yakni :
1. Pendekatan Marginal Utility (Cardinal), beranggapan bahwa kepuasan konsumen dapat diukur dengan satu satuan, misalnya uang.
2. Pendekatan Indifference Curve (Ordinal) yang beranggapan bahwa kepuasan konsumen tidak dapat diukur dengan satu satuan. Tingkat kepuasan konsumen hanya dapat dinyatakan lebih tinggi atau lebih rendah.
Dalam pendekatan Marginal Utility digunakan anggapan sebagai berikut :
1. Utility bisa diukur dengan uang.
2. Hukum Gossen (The Law Of Diminishing Returns) berlaku yang menyatakan bahwa "Semakin banyak sesuatu barang dikonsumsi, maka tambahan kepuasan yang diperoleh dari setiap satuan tambahan yang dikonsumsikan akan menurun".
3. Konsumen berusaha memaksimumkan kepuasan.
Total Utility adalah seluruh kepuasan yang diperoleh dari mengkonsumsi sejumlah barang tertentu. Marginal Utility adalah tambahan atau pengurangan kepuasan sebagai akibat dari pertambahan atau pengurangan satu unit barang tertentu.
Asumsi dasar teori utility ordinal
a. Rasionalitas artinya konsumen akan berusaha meningkatkan atau memilih tingkat kepuasan yang tinggi.
c. Nilai guna tergantung pada jumlah barang yang dikonsumsi
d. Transivitas artinya konsumen akan menjatuhkan pada pilihan yang terbaik dan bebeberapa pilihan
Budget line merupakan garis anggaran yang menghubungkan kombinasi kebutuhan yang bisa dipenuhi oleh konsumen dengan anggaran yang dimilikinya,atau dalam kata lain kepuasan maksimum dibatasi oleh anggaran atau dana yang dimiliki
Sehinggan perubahan-perubahan harga yang terjadi yang mempengaruhi keseimbangan pemaksimuman kepuasan, jika titik-titik dari perubahan harga tersebut dihubungkan,maka akan terjadi suatu kurva yang disebut Garis Harga Konsumsi yang menunjukkan tingkat kepuasan yang semakin berkurang. Sedangkan perubahan pendapatan disebut Garis Pendapatan Konsumsi akan mempengaruhi pemaksimuman kepuasan yang menunjukkan tingkat kepuasan yang semakin meningkat.
Dalam kaitannya dengan budget line Allah SWT sudah mengajarkan kepada kita melalui firmanNya dalam QS. al-Isra’: 26-27 “Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.Sesungguhnya orang-orang yang menyia-nyiakan harta (pemboros) itu seperti keadaan syetan”
Pada Ayat ini Allah mengajarkan kepada kita bagaimana seharusnya kita menggunakan atau membelanjakan anggaran yang kita miliki meliputi :
1.Allah memerintahkan kepada kita untuk mendahulukan pos belanja rutin dari setiap anggaran yang kita miliki.
2.Mendahulukan Kebutuhan khususnya yang bersifat mendesak dan menghindari distorsi keinginan dalam pemenuhan kebutuhan.
3. Tidak bersifat Boros atau dalam artian belanjakan anggaran kita secara efisien yakni tepat guna memiliki kemanfaatan yang tinggi (niliai utility yang tinggi baik margin utility ataupun total utility).
Dalam ayat yang lain Allah juga mengajarkan kepada kita supaya mendapatkan keberuntungan maka belanjakanlah anggaran yang kita miliki dengan perencanaan yang tepat,menghindari biaya entertainment yang merugikan,berkorban untuk benda yang tidak dapat memberi manfaat(berhala/benda mati, terlebih belanja tersebut dengan hutang),untuk berspekulasi yakni membelanjakan untuk sesuatu yang tidak pasti/mengundi nasib,sebagaimana Fiman Allah dalam QS. Al-Maidah: 90:
“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya meminum khamr, berjudi, berkorban untuk berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.”
Budget line menurut al - qur'an
Rose Bole hanya $ 100 untuk dibelanjakan pada dua gairah dalam hidup: membeli buku-buku dan film hadir. If all books cost $5.00 and all movies cost $2.50 (these are simply assumptions to make the problem easier--as is the assumption that only two items are involved in the problem), the graph below shows the options open to Rose. Jika semua buku biaya $ 5,00 dan semua film biaya $ 2,50 (ini hanya asumsi untuk membuat masalah lebih mudah - seperti asumsi bahwa hanya dua item yang terlibat dalam masalah), grafik di bawah ini menunjukkan opsi terbuka untuk Rose. The budget line is a frontier showing what Rose can attain. Garis anggaran adalah frontier menunjukkan apa Rose bisa mencapai. The budget line limits choices ; it is due to scarcity. Garis anggaran membatasi pilihan , itu adalah karena kelangkaan. The cost of a book is $5.00 or two movies. Biaya buku adalah $ 5.00 atau dua film. Spending money on a product means that money cannot be used to purchase another product. Menghabiskan uang untuk produk berarti uang yang tidak dapat digunakan untuk membeli produk lain. In the case of books versus movies, the tradeoff is a straight line because one more book always costs two movies, regardless of how many books Rose has already. Dalam kasus buku versus film, tradeoff adalah garis lurus karena satu buku lagi selalu biaya dua film, terlepas dari berapa banyak buku Rose sudah.
A-Line Anggaran
You should be able to see that the slope of the budget line depends only on the price of books relative to the price of movies. If either books get cheaper or movies get more expensive, the budget line in the graph above will get steeper. Anda harus dapat melihat bahwa kemiringan garis anggaran hanya bergantung pada harga buku relatif terhadap harga film. Jika salah satu mendapatkan buku murah atau film mendapatkan lebih mahal, garis anggaran dalam grafik di atas akan mendapatkan lebih curam. If this is not immediately obvious, compute the possibilities open to a person with $100 to spend if books and movies both cost $5.00 (a case of more expensive movies), and the possibilities open to a person with $100 to spend if books and movies both cost $2.50 (a case of cheaper books). Jika ini tidak segera jelas, menghitung kemungkinan terbuka untuk seseorang dengan $ 100 untuk menghabiskan jika buku dan film baik biaya $ 5.00 (kasus film lebih mahal), dan kemungkinan terbuka untuk seseorang dengan $ 100 untuk menghabiskan jika buku dan film baik biaya $ 2,50 (kasus buku murah). Graphing the possibilities open to a person with only $50 to spend but with books costing $5.00 and movies costing $2.50 gives you a line that is to the left of the line in the graph above, but parallel to it, which means that it has the same slope. Grafik kemungkinan terbuka untuk seseorang dengan hanya $ 50 sampai menghabiskan tetapi dengan buku-buku seharga $ 5,00 dan film biaya $ 2,50 memberikan Anda sebuah baris yang ada di sebelah kiri garis pada grafik di atas, tetapi sejajar dengan itu, yang berarti bahwa ia memiliki sama lereng. The amount of money available to spend does not determine the slope of the budget line; only the ratio of prices does that. Jumlah uang yang tersedia untuk dibelanjakan tidak menentukan kemiringan garis anggaran, hanya rasio harga yang tidak.
A famous example of a budget constraint is the case of guns versus butter. Sebuah contoh yang terkenal dari batasan anggaran adalah kasus senjata versus mentega. During the Second World War, the United States decided it needed to produce large amounts of armaments (guns). Selama Perang Dunia Kedua, Amerika Serikat memutuskan yang dibutuhkan untuk menghasilkan sejumlah besar persenjataan (senjata). It shifted factories that previously produced goods for civilian use (butter) to the production of guns. Hal bergeser pabrik yang sebelumnya memproduksi barang untuk penggunaan sipil (mentega) untuk produksi senjata. This tradeoff could be represented as a move from a point such as a to a point such as b in the graph below, except that at the start of the war there was still a high level of unemployment left over from the recessions of 1929-33 and 1937-8 (a period better known as the Great Depression ). tradeoff ini bisa direpresentasikan sebagai langkah dari titik seperti untuk titik seperti b dalam grafik di bawah ini, kecuali bahwa pada awal perang masih ada tingkat pengangguran yang tinggi tersisa dari resesi dari 1929-1933 dan 1937-8 (periode yang lebih dikenal sebagai Depresi Besar ). Hence, the United States was not at the limit of what it could produce, but rather at a point such as c, which indicates that more of all goods could have been produced given the amount of resources and technology. Oleh karena itu, Amerika Serikat tidak berada di batas dari apa yang bisa menghasilkan, tetapi lebih pada titik seperti c, yang menunjukkan bahwa lebih dari semua barang bisa diproduksi mengingat jumlah sumber daya dan teknologi.
Lebih Guns = Kurang Butter
Though point d was a more desirable position than points a or b , it was unattainable given technology and resources. Meskipun butir d adalah posisi yang diinginkan lebih dari huruf a atau b, itu teknologi tertentu tercapai dan sumber daya. The limit to what is possible to produce is called the production-possibilities frontier. Its existence, which is a result of scarcity, indicates that there are costs to producing all goods and services. Batas untuk apa yang mungkin untuk menghasilkan disebut -batas kemungkinan produksi. Keberadaannya, yang merupakan hasil dari kelangkaan, menunjukkan bahwa ada biaya untuk memproduksi semua barang dan jasa. During World War II, the cost of producing thousands of tanks and jeeps was the virtual elimination of production of autos for civilian use. Selama Perang Dunia II, biaya produksi ribuan tank dan jip adalah penghapusan virtual produksi autos untuk penggunaan sipil. The cost of feeding millions of troops in the field was a less attractive diet for the civilian population. Biaya makan jutaan pasukan di lapangan adalah diet kurang menarik bagi penduduk sipil.
The major idea in this section has been that all economic activity takes place within limitations or constraints. Gagasan utama dalam bagian ini adalah bahwa semua kegiatan ekonomi terjadi di dalam keterbatasan atau kendala. Because of these constraints, choosing results in sacrificed options. Karena kendala ini, memilih hasil dalam pilihan dikorbankan. The options that are not taken, which sometimes can be measured in monetary terms, are costs. Pilihan yang tidak diambil, yang kadang-kadang dapat diukur dalam istilah moneter, adalah biaya.
Next, we combine the utility function and budget line. Selanjutnya, kita menggabungkan fungsi utilitas dan garis anggaran.
Opsi Terbaik
A choice involves deciding in favor of one option and discarding others. Sebuah pilihan yang melibatkan penentu dalam mendukung salah satu pilihan dan lain-lain membuang. A budget constraint limits the options from which people can choose. Sebuah batasan anggaran membatasi pilihan dari mana orang dapat memilih. To make the best decision, a person must choose the option that is both possible and that contributes most to the achievement of that person's goals. Untuk membuat keputusan terbaik, orang harus memilih opsi yang mungkin dan yang memberikan kontribusi terbesar bagi pencapaian tujuan orang itu. This section analyzes how people can make such choices. Bagian ini menganalisa bagaimana orang dapat membuat pilihan seperti itu.
Although it is easy to show the budget constraint with a table or graph, showing goals is a bit more difficult. Meskipun mudah untuk menunjukkan batasan anggaran dengan tabel atau grafik, yang menunjukkan tujuan adalah sedikit lebih sulit. For the purpose of illustrating some important ideas, this section will assume that goal-attainment can be measured in some unit of satisfaction or utility. Untuk tujuan ilustrasi beberapa ide penting, bagian ini akan mengasumsikan bahwa tujuan-pencapaian dapat diukur dalam beberapa unit kepuasan atau utilitas. The table below gives an example by using an imaginary measurement called the util. Tabel di bawah ini memberikan contoh dengan menggunakan pengukuran imajiner disebut util.
Benefits Measured in Utils Manfaat Diukur dalam Utils
Amount Jumlah
Utils from Shirts Utils dari Shirts
Utils from Hamburgers Utils dari Hamburger
1 1
11 11
8 8
2 2
20 20
15 15
3 3
27 27
21 21
4 4
31 31
26 26
5 5
32 32
30 30
Our second table expands the first to show utility for various combinations of shirts and hamburgers. tabel kedua kami memperluas pertama yang menunjukkan utilitas untuk berbagai kombinasi kemeja dan hamburger. Thus, one shirt and three hamburgers give 32 utils of satisfaction (because 11 utils from shirts + 21 utils from hamburgers equals 32 utils). Jadi, satu kemeja dan tiga hamburger memberikan kepuasan 32 util (karena 11 utils dari baju + 21 utils dari hamburger sama dengan 32 util). The person gets the same level of satisfaction from five shirts and no hamburgers. Orang yang mendapatkan tingkat kepuasan yang sama dari lima shirt dan tidak ada hamburger. The person whose wants are described in this table should find these two combinations of equal value, or, to anticipate a term, he will be indifferent between them. Orang yang ingin dijelaskan dalam tabel ini harus mencari dua kombinasi nilai yang sama, atau, untuk mengantisipasi istilah, ia akan acuh tak acuh di antara mereka.
A Utility Function Sebuah Fungsi Utility
Number of Shirts Jumlah Shirts
. .
5 5
32 32
40 40
47 47
53 53
58 58
62 62
4 4
31 31
39 39
46 46
52 52
57 57
61 61
3 3
27 27
35 35
42 42
48 48
53 53
57 57
2 2
20 20
28 28
35 35
41 41
46 46
50 50
1 1
11 11
19 19
26 26
32 32
37 37
41 41
0 0
0 0
8 8
15 15
21 21
26 26
30 30
. .
0 0
1 1
2 2
3 3
4 4
5 5
. .
Number of Hamburgers Jumlah Hamburger
The consumer wants to get as much utility as possible, but a budget constraint limits him. Konsumen ingin mendapatkan utilitas sebanyak mungkin, namun kendala anggaran batas dia. In the table above the budget constraint is drawn so that the person can have only five items. Dalam tabel di atas batasan anggaran diambil sehingga orang hanya dapat memiliki lima item. Looking at all combinations possible, that is, to the left of the budget constraint (the numbers in red), one can see that the combination three shirts and two hamburgers maximize utility. Melihat semua kombinasi yang mungkin, yaitu di sebelah kiri batasan anggaran (angka merah), seseorang dapat melihat bahwa kombinasi tiga baju dan dua hamburger memaksimalkan utilitas. This combination yields 42 utils, and no other combination that is allowed by the budget constraint gives more. Kombinasi ini menghasilkan 42 util, dan tidak ada kombinasi lain yang diperkenankan oleh batasan anggaran memberi lebih.
This simple problem can be solved in another way, with the maximization principle. The advantage of the second solution is that it gives insight into a whole range of problems. Ini masalah sederhana dapat diselesaikan dengan cara lain, dengan prinsip maksimalisasi. Keuntungan dari solusi kedua adalah bahwa hal itu memberikan wawasan berbagai macam masalah.
Prinsip Maksimalisasi
Often, it is impossible or difficult to list all the options and the budget constraint as the last section does. There can be simpler ways to approach this problem. Seringkali, tidak mungkin atau sulit untuk melihat semua pilihan dan batasan anggaran sebagai bagian terakhir ini. Ada dapat cara sederhana untuk pendekatan masalah ini. The overview suggested that we could break the question into a series of questions. The gambaran menyarankan bahwa kita bisa memecahkan pertanyaan menjadi sebuah rangkaian pertanyaan. We begin by assuming that all money is used to buy shirts, which, in this example, means that the person buys five shirts. Kita mulai dengan asumsi bahwa semua uang digunakan untuk membeli baju, yang, dalam contoh ini, berarti bahwa orang tersebut membeli lima shirt. Then, we ask whether the person is better off buying one hamburger than buying none. Lalu, kita bertanya apakah orang itu lebih baik membeli satu hamburger daripada membeli tidak ada. To answer this question, we need to compute the costs and benefits of making this change. Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu untuk menghitung biaya dan manfaat dari melakukan perubahan ini. Using the example from the previous section , the added benefit of the first hamburger is eight utils. Dengan menggunakan contoh dari bagian sebelumnya , manfaat tambahan hamburger pertama adalah delapan util. To compute the cost of making this change, we must remember the budget constraint. Untuk menghitung biaya pembuatan perubahan ini, kita harus ingat batasan anggaran. To get a hamburger, the person must sacrifice a shirt. Untuk mendapatkan hamburger, orang harus mengorbankan kemeja. Because he began with five, he will be left with four. Karena dia mulai dengan lima, ia akan dibiarkan dengan empat. As a result, the utility he gets from shirts will decline by one util, and this is the cost of adding a hamburger. Akibatnya, utilitas ia dapatkan dari kemeja akan menurun oleh satu util, dan ini adalah biaya penambahan hamburger. Since the change adds benefits of eight utils at a cost of one util, this is a smart change to make. Sejak mengubah menambahkan manfaat dari delapan utils dengan biaya satu util, ini adalah perubahan cerdas untuk membuat.
Benefits Measured in Utils (from last section) Manfaat Diukur dalam Utils (dari bagian terakhir)
Amount Jumlah
Utils from Shirts Utils dari Shirts
Utils from Hamburgers Utils dari Hamburger
1 1
11 11
8 8
2 2
20 20
15 15
3 3
27 27
21 21
4 4
31 31
26 26
5 5
32 32
30 30
Now, we ask if another change is worthwhile. Sekarang, kita bertanya apakah perubahan lain adalah berharga. What will the costs and benefits of adding a second hamburger be? Apa yang akan biaya dan manfaat menambahkan hamburger kedua itu? The table says that the utility of two hamburgers is 15. Tabel tersebut mengatakan bahwa utilitas dua hamburger adalah 15. Because eight of those utils come from the first hamburger, the added utility of the second hamburger is seven. Karena delapan dari mereka utils berasal dari hamburger pertama, utilitas tambahan hamburger kedua adalah tujuh. Because the budget constraint forces the person to give up his fourth shirt in order to obtain this hamburger, utility from shirts will drop from 31 utils to 27 utils, a loss of four utils. Karena batasan anggaran memaksa seseorang untuk memberikan baju keempat untuk mendapatkan hamburger ini, utilitas dari kaos akan turun dari 31 util menjadi 27 util, kehilangan empat util. Thus, the benefits of adding the second hamburger are seven utils, and the cost is a loss of four utils. Dengan demikian, manfaat dari penambahan hamburger kedua adalah tujuh util, dan biaya adalah kehilangan empat util. Adding the second hamburger is also a smart move because it increases total utility. Menambahkan hamburger kedua juga merupakan langkah yang cerdas karena meningkatkan utilitas total.
The third hamburger is not worth obtaining. Hamburger ketiga tidak layak mendapatkan. The benefit of adding the third is six utils (moving from 15 to 21 utils in the table). Manfaat penambahan ketiga adalah enam utils (bergerak 15-21 utils dalam tabel). But this move requires the person to move from three shirts to two, and in this move, seven utils from shirts are given up. Namun langkah ini membutuhkan seseorang untuk berpindah dari tiga shirt ke dua, dan dalam langkah ini, tujuh utils dari shirt menyerah. Because the cost of adding the third hamburger (seven utils) is greater than the benefits of this hamburger (six utils), the person should not add it. Karena biaya penambahan hamburger ketiga (tujuh utils) lebih besar daripada manfaat dari hamburger (enam util), orang tersebut tidak boleh menambahkan hal itu.
Economists call the approach taken in the preceding paragraphs the marginal approach. Para ekonom menyebut pendekatan yang diambil di paragraf sebelumnya pendekatan marjinal. Thinking on the margin means that a person is asking what the effects of small changes will be. Berpikir margin berarti bahwa seseorang menanyakan apa efek dari perubahan kecil akan. In this approach one considers marginal costs and marginal benefits. The marginal cost of a change is the additional cost caused by the change. Dalam pendekatan ini kita menganggap biaya marjinal dan manfaat marjinal. Biaya marjinal adalah perubahan biaya tambahan yang disebabkan oleh perubahan. The marginal benefit of the change is the additional benefit caused by the change. Manfaat marjinal perubahan adalah penambahan manfaat yang disebabkan oleh perubahan. The marginal approach suggests that one should make all the changes that increase benefits more than they increase costs (or that reduce costs by more than they reduce benefits). Pendekatan marjinal menyarankan bahwa seseorang harus membuat semua perubahan yang kenaikan manfaat lebih dari yang mereka meningkatkan biaya (atau yang mengurangi biaya lebih dari yang mereka mengurangi manfaat). When all these changes have been made, one will find oneself at a point for which marginal costs equal marginal benefits. Ketika semua perubahan ini telah dibuat, kita akan menemukan diri di titik yang sama dengan biaya marginal manfaat marjinal. This rule for finding the best level of an activity is called the maximization principle. Aturan ini untuk menemukan level terbaik dari kegiatan ini disebut prinsip maksimalisasi.
Costs and Benefits of Hamburgers Biaya dan Manfaat Hamburger
Which Hamburger Yang Hamburger
Marginal Benefit of Hamburgers Marjinal Manfaat Hamburger
Marginal Cost of Hamburgers Biaya Marginal Hamburger
. .
Number of Hamburgers Jumlah Hamburger
Total Benefit of Hamburgers Jumlah Manfaat Hamburger
Total Cost of Hamburgers Total Biaya Hamburger
Net Benefit Manfaat Bersih
First Pertama
8 8
1 1
1 1
8 8
1 1
7 7
Second Kedua
7 7
4 4
2 2
15 15
5 5
10 10
Third Ketiga
6 6
7 7
3 3
21 21
12 12
9 9
Fourth Keempat
5 5
9 9
4 4
26 26
21 21
5 5
Fifth Kelima
4 4
11 11
5 5
30 30
32 32
-2 -2
To see that the maximization principle does generate the largest net benefits, the problem of how many hamburgers to buy can be analyzed with total costs and total benefits. Untuk melihat bahwa prinsip maksimalisasi tidak menghasilkan keuntungan bersih terbesar, masalah bagaimana hamburger banyak untuk membeli dapat dianalisis dengan total biaya dan manfaat total. This analysis is illustrated in the table above. Analisis ini diilustrasikan dalam tabel di atas. Columns two and three show marginal costs and benefits, and the way in which they were obtained has been described in the previous paragraphs. Kolom dua dan tiga menunjukkan biaya marjinal dan manfaat, dan cara di mana mereka diperoleh telah dijelaskan pada paragraf sebelumnya. Total benefits of hamburgers are taken from the first table. Jumlah manfaat hamburger diambil dari tabel pertama.
Total Costs are obtained from column two of the first table and depend on the budget constraint. Total biaya diperoleh dari kolom dua tabel pertama dan bergantung pada batasan anggaran. The total cost of three hamburgers, for example, will be the lost utility of three shirts. Total biaya tiga hamburger, misalnya, akan utilitas hilang tiga kemeja. Because five shirts give 32 utils, and losing three leaves only two giving 20 utils, the total cost of three hamburgers is 12 utils. Karena lima shirt memberikan 32 util, dan kehilangan tiga daun hanya dua memberikan 20 util, total biaya tiga hamburger adalah 12 util. The Net Benefit column in the second table is found by subtracting total cost from total benefit. Kolom Manfaat bersih pada tabel kedua adalah ditemukan dengan mengurangi total biaya dari total manfaat. At two hamburgers, the total utility will be ten utils higher than at the starting point of five shirts and no hamburgers. Pada dua hamburger, utilitas total akan menjadi sepuluh utils lebih tinggi dari pada titik awal dari lima kemeja dan tidak ada hamburger.
You should see that if one has total cost one can obtain marginal cost, and if one has total benefit one can obtain marginal benefit, and vice versa. Anda harus melihat bahwa jika seseorang memiliki satu biaya total dapat memperoleh biaya marjinal, dan jika seseorang memiliki satu manfaat total dapat memperoleh manfaat marjinal, dan sebaliknya. The formula for marginal cost is: Rumus untuk biaya marjinal:
Marginal Cost = (Change in total cost)/(Change in activity) Biaya Marginal = (Perubahan total biaya) / (Perubahan dalam kegiatan)
Thus, if a business knows that the total cost of producing 98 shirts is $398 and the total cost of producing 100 is $400, the marginal cost of the 100th shirt is approximately $2/2 = $1.00. Jadi, jika bisnis tahu bahwa biaya total untuk memproduksi 98 kaos adalah $ 398 dan total biaya produksi 100 adalah $ 400, biaya marjinal dari kemeja ke-100 adalah sekitar $ 2 / 2 $ = 1.00. Notice that marginal cost is not the same as average cost, which is found by dividing total cost by output. Perhatikan bahwa biaya marjinal tidak sama dengan biaya rata-rata, yang ditemukan dengan membagi total biaya dengan output. Alternatively, if one knows the marginal cost or benefit, one can find the total cost or total benefit by adding up all the marginals. Atau, jika ada yang tahu biaya marjinal, atau manfaat, seseorang dapat menemukan biaya total atau manfaat total dengan menjumlahkan semua marjinal. (Check the second table to see that this is so.) (Periksa tabel kedua untuk melihat bahwa itu adalah benar.)
These results can also be shown graphically. Hasil ini juga dapat ditampilkan secara grafis. In the picture below the total costs and benefits from the second table have been graphed. Pada gambar di bawah total biaya dan manfaat dari tabel kedua telah grafiknya. The goal of the person, to maximize net benefits, requires that the person try to find the point where the total benefit curve is at its greatest vertical distance above the total cost curve. Tujuan dari orang, untuk memaksimalkan keuntungan bersih, mensyaratkan bahwa orang yang mencoba mencari titik di mana kurva manfaat total pada jarak vertikal terbesar di atas kurva biaya total. (Here is one case in which the person does not want to end up at the intersection. Can you see why?) At this point, the total cost and total benefit curves have the same slopes. (Berikut adalah salah satu kasus di mana orang tersebut tidak ingin berakhir di persimpangan. Bisakah Anda melihat mengapa?) Pada titik ini, total biaya dan kurva manfaat total mempunyai lereng yang sama. Before this point, the total benefit curve is steeper, so they are moving apart. Sebelum titik ini, kurva manfaat total curam, sehingga mereka bergerak terpisah. After this point, they are moving together, which means that the total cost curve has the steeper slope. Setelah titik ini, mereka bergerak bersama-sama, yang berarti bahwa kurva total biaya memiliki lereng curam.
Jumlah Biaya dan Manfaat, Biaya Marjinal dan Manfaat
The slope of the total benefit (or cost) curve is the rise over the run, or the change in total benefit (or cost) divided by the change in the number of hamburgers. Kemiringan manfaat total (atau biaya) kurva adalah meningkat selama menjalankan, atau perubahan manfaat total (atau biaya) dibagi dengan perubahan dalam jumlah hamburger. But the marginal benefit (cost) of hamburgers is also defined as the change in total benefit (cost), divided by the change in the number of hamburgers. Namun manfaat marjinal (biaya) dari hamburger juga didefinisikan sebagai perubahan manfaat total (biaya), dibagi dengan perubahan dalam jumlah hamburger. Hence, the slope of the total benefit curve is marginal benefit and the slope of the total cost curve is marginal cost. Oleh karena itu, kemiringan kurva total manfaat manfaat marjinal dan kemiringan kurva biaya total biaya marjinal.
This idea is used to construct the marginal benefit and marginal cost curves in the bottom of the picture above. Ide ini digunakan untuk membangun manfaat marjinal dan kurva biaya marjinal di bagian bawah gambar di atas. The marginal curves are obtained by graphing the slopes of the total curves. Kurva marjinal diperoleh dengan grafik lereng kurva total. The point at which they cross corresponds to the level of activity for which the slopes of the total cost and total benefit curves are equal. Titik di mana mereka menyeberangi sesuai dengan tingkat aktivitas yang lereng total biaya dan kurva manfaat total sama.
We have not exhausted the insights from this simple problem. Kami belum habis wawasan dari masalah yang sederhana. We can also analyze the numbers with the equimarginal principle. Kita juga dapat menganalisa nomor dengan prinsip equimarginal.
Prinsip Equimarginal
At this point, you may think we have exhausted all the insights we can get from the hamburger-shirt problem . Pada titik ini, Anda mungkin berpikir bahwa kita telah kehabisan semua wawasan yang kita dapatkan dari masalah-shirt hamburger . We have not. Kami belum. The table below contains columns showing the marginal utility of shirts and the marginal utility of hamburgers. Tabel di bawah ini berisi kolom menunjukkan utilitas marjinal kemeja dan utilitas marjinal dari hamburger. These marginal utilities are obtained from our original example , which shows the total utility of one shirt, two shirts, etc. Marginal utility is the utility of the first shirt, the second shirt, etc. Thus, the utility of the fourth hamburger is found by subtracting the utility of four hamburgers from the utility of three hamburgers. Marjinal utilitas ini diperoleh dari contoh asli kita , yang menunjukkan jumlah utilitas dari satu baju, dua baju, dll utilitas marjinal utilitas dari kemeja pertama, kemeja kedua, dll Dengan demikian, utilitas dari hamburger keempat ditemukan dengan mengurangkan utilitas empat hamburger dari utilitas tiga hamburger. Notice that the marginal utility of each good declines as more of it is used. Perhatikan bahwa masing-masing utilitas marjinal menurun baik sebagai lebih dari itu digunakan. This is a case of diminishing returns that has the special title of " the law of diminishing marginal utility. " Ini adalah kasus hasil yang menurun yang memiliki judul khusus "hukum utilitas marginal yang semakin menurun." It is based on everyday observation and introspection. Hal ini didasarkan pada pengamatan sehari-hari dan introspeksi. After four beers, a fifth gives less pleasure than the fourth, a third hamburger gives less satisfaction than the second, etc. Setelah empat bir, kelima yang memberikan kesenangan kurang dari yang keempat, sebuah hamburger ketiga memberikan kepuasan kurang dari yang kedua, dll
The Equimarginal Principle, or How to Spend Your Last Dollar Prinsip Equimarginal, atau Bagaimana Menghabiskan Dolar Terakhir Anda
Number Nomor
Marginal Utility of Shirts Marginal Utility dari Shirts
Marginal Utility of Hamburgers Marginal Utility dari Hamburger
First Pertama
11 11
8 8
Second Kedua
9 9
7 7
Third Ketiga
7 7
6 6
Fourth Keempat
4 4
5 5
Fifth Kelima
1 1
4 4
Suppose that the person is not at the optimal solution of three shirts and two hamburgers. Misalkan orang itu tidak pada solusi optimal dari tiga baju dan dua hamburger. Suppose instead that he has two shirts and three hamburgers. Misalkan bukannya bahwa ia memiliki dua kemeja dan tiga hamburger. Can we tell from the table that he has spent his money incorrectly? Dapatkah kita tahu dari tabel bahwa ia telah menghabiskan uangnya salah?
We can. Kita bisa. Shirts and hamburgers cost the same. Kemeja dan hamburger biaya yang sama. Suppose that each costs $1.00 and the person has $5.00 to spend. Misalkan bahwa setiap biaya $ 1,00 dan orang tersebut memiliki $ 5.00 sampai menghabiskan. Then the last dollar spent on hamburgers gave the person only six utils, whereas the last dollar spent on shirts gave him nine utils. Kemudian dolar terakhir dibelanjakan untuk hamburger memberi orang hanya enam util, sedangkan dolar terakhir dibelanjakan untuk kaos memberinya sembilan util. The dollar spent on shirts gave a much larger return, and if he could shift money from the area in which it is giving a low return to the area in which it has a high return, he will be better off. Dolar yang dihabiskan untuk kemeja memberikan return yang jauh lebih besar, dan jika ia bisa mengalihkan uang dari daerah di mana ia memberikan kembali rendah ke daerah yang memiliki return tinggi, ia akan lebih baik. This is the basic idea of the equimarginal principle . Ini adalah ide dasar dari prinsip equimarginal. Maximization occurs when the return on the last dollar spent is the same in all areas. Maksimalisasi terjadi ketika kembali pada dolar terakhir yang dibelanjakan adalah sama di semua area. In terms of a formula, a person wants Dalam hal formula, seseorang ingin
(Marginal Benefit of A)/(Price of A) = (Marginal Benefit of B)/(Price of B) (Manfaat Marginal A) / (Harga A) = (Manfaat Marginal B) / (Harga B)
The power of this idea can be shown if we change the original problem. Kekuatan ide ini dapat ditampilkan jika kita mengubah masalah asli. Suppose that the person still has $5.00 to spend, but the price of shirts doubles from $1.00 to $2.00. Misalkan bahwa orang tersebut masih memiliki $ 5.00 sampai menghabiskan, tetapi harga kaos ganda dari $ 1,00 sampai $ 2.00. The old solution of three shirts and two hamburgers will no longer be affordable but will lie to the right of the budget line . Solusi tua dari tiga kemeja dan dua hamburger tidak akan lagi terjangkau tapi akan terletak di sebelah kanan dari garis anggaran . To solve this new problem, two new columns must be added to our table: the marginal utility of shirts per dollar and the marginal utility of hamburgers per dollar. Untuk mengatasi masalah ini baru, dua kolom baru harus ditambahkan ke meja kami: utilitas marjinal kaos per dolar dan utilitas marjinal dari hamburger per dolar. The table below adds them in columns MUs/(Price of Shirts) (the marginal utility of shirts divided by the price of shirts) and MUh/Price of Hamburgers). Tabel di bawah ini menambahkan mereka dalam unit manajemen kolom / (Harga Shirts) (utilitas marjinal kemeja dibagi dengan harga shirt) dan Muh / Harga Hamburger).
The Equimarginal Principle, Continued Prinsip Equimarginal, Lanjutan
Number Nomor
Marginal Utility of Shirts Marginal Utility dari Shirts
MUs Unit manajemen
Price of Shirts Harga Shirts
Marginal Utility of Hamburgers Marginal Utility dari Hamburger
MUh Muh
Price of Hamburgers Harga Hamburger
First Pertama
11 11
5 1/2 5 1 / 2
8 8
8 8
Second Kedua
9 9
4 1/2 4 1 / 2
7 7
7 7
Third Ketiga
7 7
3 1/2 3 1 / 2
6 6
6 6
Fourth Keempat
4 4
2 2
5 5
5 5
Fifth Kelima
1 1
1/2 1 / 2
4 4
4 4
The equimarginal principle tells us to maximize utility by selecting the highest values in the columns giving marginal utility per dollar until our budget is used up. Prinsip equimarginal memberitahu kita untuk memaksimalkan utilitas dengan memilih nilai-nilai tertinggi di kolom memberikan utilitas marjinal per dolar hingga anggaran kita habis. A person with only two dollars should buy two hamburgers rather than one shirt because both eight and seven are larger than five and one half. Seseorang dengan hanya dua dolar harus membeli dua hamburger daripada satu kemeja karena baik delapan dan tujuh lebih besar dari lima dan satu setengah. A person with $5.00, as in our example, should buy three hamburgers and one shirt. Seseorang dengan $ 5.00, seperti pada contoh kita, harus membeli tiga hamburger dan satu kemeja. This decision does not quite equalize returns on the last dollars spent on shirts and hamburgers, but it comes as close as possible. Keputusan ini tidak cukup menyamakan kembali pada dolar terakhir yang dibelanjakan pada kemeja dan hamburger, tetapi ia datang sedekat mungkin. Any other combination would give less utility and would allow for further improvement. Kombinasi lain akan memberikan utilitas kurang dan akan memungkinkan untuk perbaikan lebih lanjut. For example, if one bought two shirts and one hamburger, the extra satisfaction from a dollar spent on shirts is only four and one half utils, whereas shifting money to hamburgers would allow one to get seven utils per dollar. Sebagai contoh, jika seseorang membeli dua kemeja dan satu hamburger, kepuasan ekstra dari dolar yang dihabiskan untuk kemeja adalah utils hanya setengah empat dan satu, sedangkan pergeseran uang untuk hamburger akan memungkinkan seseorang untuk mendapatkan tujuh utils per dolar.
Next we see theory in practice with rational ignorance. Selanjutnya kita lihat teori dalam praktek dengan kebodohan rasional.
Ketidaktahuan Rasional
Marginalism is an application of the basic idea of calculus, and though calculus was invented a century before Adam Smith, it was a century after Smith when economists realized its significance. Marginalism adalah sebuah aplikasi dari ide dasar kalkulus, dan meskipun kalkulus ditemukan satu abad sebelum Adam Smith, itu adalah abad setelah Smith ketika ekonom menyadari arti pentingnya. This "marginalist revolution" greatly clarified economic theory. Ini "revolusi marginalist" sangat mengklarifikasi teori ekonomi. The better understanding of their theory has prompted economists to search for new areas in which to use it. Pemahaman teori mereka lebih baik telah mendorong ekonom untuk mencari area baru di mana untuk menggunakannya. We conclude this section with a visit to an area that economists have explored fairly recently. Kami menyimpulkan bagian ini dengan kunjungan ke daerah yang ekonom telah dieksplorasi cukup baru-baru ini.
A person purchasing a new car usually spends time learning about various makes of cars and shopping for prices. Seseorang membeli mobil baru biasanya menghabiskan waktu belajar tentang membuat berbagai mobil dan berbelanja untuk harga. The more effort spent in these activities, the more one's knowledge about cars and their prices increases. Upaya lebih banyak dihabiskan dalam kegiatan ini, pengetahuan yang lebih tentang mobil dan mereka harga meningkat. Because time is limited, and spending time searching for information means that one cannot use that time for other purposes, there is a limit on how much knowledge is worthwhile to gain. Karena waktu terbatas, dan menghabiskan waktu untuk mencari informasi berarti bahwa seseorang tidak bisa menggunakan waktu untuk tujuan lain, ada batas pada seberapa banyak pengetahuan yang berharga untuk mendapatkan. After some amount of reading, talking to friends and acquaintances, and visiting automobile dealers, a person finds that the extra benefit of another hour spent on these activities is less than the value of that hour spent in other pursuits. Setelah beberapa jumlah membaca, berbicara dengan teman-teman dan kenalan, dan mengunjungi dealer mobil, seseorang menemukan bahwa manfaat tambahan satu jam dihabiskan untuk kegiatan ini adalah kurang dari nilai yang jam dihabiskan dalam kegiatan lainnya. When one judges that this point has been reached, one stops searching and makes a decision. Ketika salah satu hakim yang saat ini telah tercapai, satu berhenti mencari dan membuat keputusan.
The amount of time people spend obtaining information differs from product to product. Jumlah waktu yang dihabiskan orang memperoleh informasi berbeda dari produk ke produk. They will spend less time learning about the bicycle they give their child than they will learning about a new car, less time deciding which brand of soup to buy than in deciding which house to purchase, and less time deciding which brand of dog food is best for Rover than in finding a college for their first-born. Mereka akan menghabiskan lebih sedikit waktu belajar tentang sepeda mereka memberi anak mereka daripada mereka akan belajar tentang mobil baru, sedikit waktu memutuskan merek sup untuk membeli dari dalam memutuskan yang rumah untuk membeli, dan sedikit waktu memutuskan merek makanan anjing yang terbaik untuk Rover dari dalam mencari perguruan tinggi untuk pertama mereka lahir. The larger the purchase, the larger the potential benefit of a few hours spent learning about the purchase. Semakin besar pembelian, semakin besar potensi manfaat beberapa jam menghabiskan waktu belajar tentang pembelian.
The government has many policies that involve major sums of money. Pemerintah telah banyak kebijakan yang melibatkan sejumlah besar uang. For example, a major weapons system in the defense department can cost $50 billion. Sebagai contoh, sistem senjata utama dalam departemen pertahanan dapat biaya $ 50 miliar. This amounts to about $200 for every person in the United States, or $1000 for a family of five. Jumlah ini sekitar $ 200 untuk setiap orang di Amerika Serikat, atau $ 1000 untuk sebuah keluarga lima. Yet few people spend much time studying these policies. Namun sedikit orang yang menghabiskan banyak waktu untuk mempelajari kebijakan tersebut. A reason is that to understand them requires many hours of study, and the probability that an understanding of them will change them in any way is very small. Alasannya adalah bahwa untuk memahami mereka membutuhkan banyak jam penelitian, dan probabilitas bahwa pemahaman mereka akan mengubah mereka dengan cara apapun sangat kecil. Thus, for most citizens the benefit of learning about a program that does not directly affect them is small, the cost is large, and they end up not knowing much about the program. Dengan demikian, untuk sebagian besar warga kepentingan belajar tentang program yang tidak secara langsung mempengaruhi mereka yang kecil, biaya yang besar, dan mereka akhirnya tidak tahu banyak tentang program tersebut. Economists say that these poorly informed citizens are rationally ignorant. Para ekonom mengatakan bahwa informasi ini adalah warga kurang rasional bodoh.
Rational ignorance is pervasive and necessary. ketidaktahuan rasional adalah luas dan perlu. There is vastly more to know than any one person can possibly know. Ada jauh lebih mengetahui daripada satu orang mungkin bisa tahu. To survive and prosper in the world, one must seek that knowledge that will be personally beneficial. Untuk bertahan hidup dan berkembang di dunia, seseorang harus mencari pengetahuan yang akan secara pribadi menguntungkan. Most people would consider someone a bit odd who was not planning to buy a car but who still went from dealer to dealer trying to learn all he could about car prices in the name of intellectual curiosity. Kebanyakan orang akan menganggap seseorang agak aneh yang tidak berencana untuk membeli mobil tapi yang masih pergi dari dealer ke dealer mencoba untuk belajar semua yang dia bisa harga mobil sekitar dalam nama keingintahuan intelektual. The behavior of most citizens suggests that they also consider odd the seeking of in-depth knowledge about the pros and cons of a specific government policy if that knowledge does not directly benefit the person who gets it. Perilaku dari sebagian besar warga menunjukkan bahwa mereka juga menganggap aneh yang mencari pengetahuan yang mendalam mengenai pro dan kontra dari kebijakan pemerintah yang spesifik jika pengetahuan yang tidak langsung mendapatkan keuntungan orang yang mendapatkannya. The cost-benefit reasoning that leads to the idea of rational ignorance implies that people will be better informed about the choices they make in the marketplace than about those they make in the voting booth. Alasan biaya-manfaat yang mengarah ke gagasan rasional kebodohan menyiratkan bahwa orang akan lebih banyak informasi mengenai pilihan yang mereka buat di pasar dari sekitar yang mereka buat dalam bilik suara.
A look at costs and benefits not only explains why few citizens understand the subtleties of most government policies, but it also explains why about one half of the eligible voters in the United States do not vote. Sebuah melihat biaya dan manfaat tidak hanya menjelaskan mengapa beberapa warga memahami seluk-beluk kebijakan pemerintah yang paling, tetapi juga menjelaskan mengapa sekitar satu setengah dari pemilih yang berhak di Amerika Serikat tidak memilih. The probability that one's vote will be the crucial vote that decides an important election is small. Probabilitas bahwa satu suara akan menjadi suara penting yang menentukan pemilihan penting adalah kecil. Even if one's vote is the crucial vote that breaks the tie, one may not like the outcome--many people regret the way they voted when they compare actual performance with campaign promises. Bahkan jika satu suara adalah suara penting yang mengikat istirahat, seseorang tidak mungkin seperti hasilnya - banyak orang menyesal cara mereka memberikan suara ketika mereka membandingkan kinerja aktual dengan janji-janji kampanye. Given these small benefits compared to the costs of time and transportation that voting entails, it is not surprising that many people who are eligible to vote do not. Mengingat manfaat kecil dibandingkan dengan biaya waktu dan transportasi yang memerlukan suara, tidak mengherankan bahwa banyak orang yang berhak memilih tidak. What is surprising is that the percentage of people voting is not even smaller. Apa yang mengejutkan adalah bahwa persentase suara orang bahkan tidak lebih kecil. It seems likely that there are other benefits to voting that have not yet been mentioned. Agaknya ada manfaat lain untuk suara, yang belum disebutkan.
Politics is in many ways a spectator sport, with all the excitement and drama of football or baseball. Politik dalam banyak hal olahraga penonton, dengan segala kegembiraan dan drama sepak bola atau baseball. Voting may be enjoyable in the same way as watching and cheering on a favorite ball team. Voting mungkin menyenangkan dalam cara yang sama seperti menonton dan bersorak-sorai pada tim bola favorit. Indeed, voting against a politician one does not like is enjoyable, even if it does not result in his defeat. Memang, suara terhadap satu politisi tidak suka menyenangkan, bahkan jika itu tidak mengakibatkan kekalahannya. Another explanation for voting is that people have a sense of public duty. Penjelasan lain untuk pemungutan suara adalah bahwa orang memiliki rasa kewajiban publik. They want to be good citizens, and voting may seem important regardless of its effect--the act of voting itself can be important as a symbolic act. Mereka ingin menjadi warga negara yang baik, dan suara mungkin tampak penting terlepas dari efek - tindakan pemungutan suara itu sendiri dapat menjadi penting sebagai tindakan simbolik. One other possibility is that people may overestimate the importance of their vote and the probability that theirs will be the ballot that decides an election. Salah satu kemungkinan lain adalah bahwa orang mungkin melebih-lebihkan pentingnya suara mereka dan probabilitas bahwa mereka akan menjadi pemungutan suara yang memutuskan pemilihan.
In contrast to elections in the United States, elections in the old Communist-bloc nations were predictable. Berbeda dengan pemilu di Amerika Serikat, pemilu di negara-negara Komunis-blok lama yang diprediksi. There was no doubt about who would win. Tidak ada keraguan tentang siapa yang akan menang. Yet, these countries reported impressive percentages--sometimes more than 99%, of their citizens voted. Namun, negara-negara melaporkan persentase mengesankan - kadang-kadang lebih dari 99%, warganya memilih. Anyone who understands how to reason in terms of costs and benefits should be able to explain the implications of very high participation rates in meaningless elections. Siapa saja yang mengerti bagaimana untuk alasan dalam hal biaya dan manfaat harus bisa menjelaskan implikasi dari tingkat partisipasi sangat tinggi dalam pemilu berarti.
Keep the rationally ignorant voter in mind when interpreting polls that ask citizens their opinions about complex public issues. Jauhkan pemilih rasional bodoh dalam pikiran ketika menafsirkan jajak pendapat yang meminta pendapat warga mereka tentang isu-isu publik yang rumit. The idea that voters are rationally ignorant also has implications for how governments work . Gagasan bahwa pemilih rasional bodoh juga memiliki implikasi untuk bagaimana pemerintah bekerja .
A-Line Anggaran
You should be able to see that the slope of the budget line depends only on the price of books relative to the price of movies. If either books get cheaper or movies get more expensive, the budget line in the graph above will get steeper. Anda harus dapat melihat bahwa kemiringan garis anggaran hanya bergantung pada harga buku relatif terhadap harga film. Jika salah satu mendapatkan buku murah atau film mendapatkan lebih mahal, garis anggaran dalam grafik di atas akan mendapatkan lebih curam. If this is not immediately obvious, compute the possibilities open to a person with $100 to spend if books and movies both cost $5.00 (a case of more expensive movies), and the possibilities open to a person with $100 to spend if books and movies both cost $2.50 (a case of cheaper books). Jika ini tidak segera jelas, menghitung kemungkinan terbuka untuk seseorang dengan $ 100 untuk menghabiskan jika buku dan film baik biaya $ 5.00 (kasus film lebih mahal), dan kemungkinan terbuka untuk seseorang dengan $ 100 untuk menghabiskan jika buku dan film baik biaya $ 2,50 (kasus buku murah). Graphing the possibilities open to a person with only $50 to spend but with books costing $5.00 and movies costing $2.50 gives you a line that is to the left of the line in the graph above, but parallel to it, which means that it has the same slope. Grafik kemungkinan terbuka untuk seseorang dengan hanya $ 50 sampai menghabiskan tetapi dengan buku-buku seharga $ 5,00 dan film biaya $ 2,50 memberikan Anda sebuah baris yang ada di sebelah kiri garis pada grafik di atas, tetapi sejajar dengan itu, yang berarti bahwa ia memiliki sama lereng. The amount of money available to spend does not determine the slope of the budget line; only the ratio of prices does that. Jumlah uang yang tersedia untuk dibelanjakan tidak menentukan kemiringan garis anggaran, hanya rasio harga yang tidak.
A famous example of a budget constraint is the case of guns versus butter. Sebuah contoh yang terkenal dari batasan anggaran adalah kasus senjata versus mentega. During the Second World War, the United States decided it needed to produce large amounts of armaments (guns). Selama Perang Dunia Kedua, Amerika Serikat memutuskan yang dibutuhkan untuk menghasilkan sejumlah besar persenjataan (senjata). It shifted factories that previously produced goods for civilian use (butter) to the production of guns. Hal bergeser pabrik yang sebelumnya memproduksi barang untuk penggunaan sipil (mentega) untuk produksi senjata. This tradeoff could be represented as a move from a point such as a to a point such as b in the graph below, except that at the start of the war there was still a high level of unemployment left over from the recessions of 1929-33 and 1937-8 (a period better known as the Great Depression ). tradeoff ini bisa direpresentasikan sebagai langkah dari titik seperti untuk titik seperti b dalam grafik di bawah ini, kecuali bahwa pada awal perang masih ada tingkat pengangguran yang tinggi tersisa dari resesi dari 1929-1933 dan 1937-8 (periode yang lebih dikenal sebagai Depresi Besar ). Hence, the United States was not at the limit of what it could produce, but rather at a point such as c, which indicates that more of all goods could have been produced given the amount of resources and technology. Oleh karena itu, Amerika Serikat tidak berada di batas dari apa yang bisa menghasilkan, tetapi lebih pada titik seperti c, yang menunjukkan bahwa lebih dari semua barang bisa diproduksi mengingat jumlah sumber daya dan teknologi.
Lebih Guns = Kurang Butter
Though point d was a more desirable position than points a or b , it was unattainable given technology and resources. Meskipun butir d adalah posisi yang diinginkan lebih dari huruf a atau b, itu teknologi tertentu tercapai dan sumber daya. The limit to what is possible to produce is called the production-possibilities frontier. Its existence, which is a result of scarcity, indicates that there are costs to producing all goods and services. Batas untuk apa yang mungkin untuk menghasilkan disebut -batas kemungkinan produksi. Keberadaannya, yang merupakan hasil dari kelangkaan, menunjukkan bahwa ada biaya untuk memproduksi semua barang dan jasa. During World War II, the cost of producing thousands of tanks and jeeps was the virtual elimination of production of autos for civilian use. Selama Perang Dunia II, biaya produksi ribuan tank dan jip adalah penghapusan virtual produksi autos untuk penggunaan sipil. The cost of feeding millions of troops in the field was a less attractive diet for the civilian population. Biaya makan jutaan pasukan di lapangan adalah diet kurang menarik bagi penduduk sipil.
The major idea in this section has been that all economic activity takes place within limitations or constraints. Gagasan utama dalam bagian ini adalah bahwa semua kegiatan ekonomi terjadi di dalam keterbatasan atau kendala. Because of these constraints, choosing results in sacrificed options. Karena kendala ini, memilih hasil dalam pilihan dikorbankan. The options that are not taken, which sometimes can be measured in monetary terms, are costs. Pilihan yang tidak diambil, yang kadang-kadang dapat diukur dalam istilah moneter, adalah biaya.
Next, we combine the utility function and budget line. Selanjutnya, kita menggabungkan fungsi utilitas dan garis anggaran.
Opsi Terbaik
A choice involves deciding in favor of one option and discarding others. Sebuah pilihan yang melibatkan penentu dalam mendukung salah satu pilihan dan lain-lain membuang. A budget constraint limits the options from which people can choose. Sebuah batasan anggaran membatasi pilihan dari mana orang dapat memilih. To make the best decision, a person must choose the option that is both possible and that contributes most to the achievement of that person's goals. Untuk membuat keputusan terbaik, orang harus memilih opsi yang mungkin dan yang memberikan kontribusi terbesar bagi pencapaian tujuan orang itu. This section analyzes how people can make such choices. Bagian ini menganalisa bagaimana orang dapat membuat pilihan seperti itu.
Although it is easy to show the budget constraint with a table or graph, showing goals is a bit more difficult. Meskipun mudah untuk menunjukkan batasan anggaran dengan tabel atau grafik, yang menunjukkan tujuan adalah sedikit lebih sulit. For the purpose of illustrating some important ideas, this section will assume that goal-attainment can be measured in some unit of satisfaction or utility. Untuk tujuan ilustrasi beberapa ide penting, bagian ini akan mengasumsikan bahwa tujuan-pencapaian dapat diukur dalam beberapa unit kepuasan atau utilitas. The table below gives an example by using an imaginary measurement called the util. Tabel di bawah ini memberikan contoh dengan menggunakan pengukuran imajiner disebut util.
Benefits Measured in Utils Manfaat Diukur dalam Utils
Amount Jumlah
Utils from Shirts Utils dari Shirts
Utils from Hamburgers Utils dari Hamburger
1 1
11 11
8 8
2 2
20 20
15 15
3 3
27 27
21 21
4 4
31 31
26 26
5 5
32 32
30 30
Our second table expands the first to show utility for various combinations of shirts and hamburgers. tabel kedua kami memperluas pertama yang menunjukkan utilitas untuk berbagai kombinasi kemeja dan hamburger. Thus, one shirt and three hamburgers give 32 utils of satisfaction (because 11 utils from shirts + 21 utils from hamburgers equals 32 utils). Jadi, satu kemeja dan tiga hamburger memberikan kepuasan 32 util (karena 11 utils dari baju + 21 utils dari hamburger sama dengan 32 util). The person gets the same level of satisfaction from five shirts and no hamburgers. Orang yang mendapatkan tingkat kepuasan yang sama dari lima shirt dan tidak ada hamburger. The person whose wants are described in this table should find these two combinations of equal value, or, to anticipate a term, he will be indifferent between them. Orang yang ingin dijelaskan dalam tabel ini harus mencari dua kombinasi nilai yang sama, atau, untuk mengantisipasi istilah, ia akan acuh tak acuh di antara mereka.
A Utility Function Sebuah Fungsi Utility
Number of Shirts Jumlah Shirts
. .
5 5
32 32
40 40
47 47
53 53
58 58
62 62
4 4
31 31
39 39
46 46
52 52
57 57
61 61
3 3
27 27
35 35
42 42
48 48
53 53
57 57
2 2
20 20
28 28
35 35
41 41
46 46
50 50
1 1
11 11
19 19
26 26
32 32
37 37
41 41
0 0
0 0
8 8
15 15
21 21
26 26
30 30
. .
0 0
1 1
2 2
3 3
4 4
5 5
. .
Number of Hamburgers Jumlah Hamburger
The consumer wants to get as much utility as possible, but a budget constraint limits him. Konsumen ingin mendapatkan utilitas sebanyak mungkin, namun kendala anggaran batas dia. In the table above the budget constraint is drawn so that the person can have only five items. Dalam tabel di atas batasan anggaran diambil sehingga orang hanya dapat memiliki lima item. Looking at all combinations possible, that is, to the left of the budget constraint (the numbers in red), one can see that the combination three shirts and two hamburgers maximize utility. Melihat semua kombinasi yang mungkin, yaitu di sebelah kiri batasan anggaran (angka merah), seseorang dapat melihat bahwa kombinasi tiga baju dan dua hamburger memaksimalkan utilitas. This combination yields 42 utils, and no other combination that is allowed by the budget constraint gives more. Kombinasi ini menghasilkan 42 util, dan tidak ada kombinasi lain yang diperkenankan oleh batasan anggaran memberi lebih.
This simple problem can be solved in another way, with the maximization principle. The advantage of the second solution is that it gives insight into a whole range of problems. Ini masalah sederhana dapat diselesaikan dengan cara lain, dengan prinsip maksimalisasi. Keuntungan dari solusi kedua adalah bahwa hal itu memberikan wawasan berbagai macam masalah.
Prinsip Maksimalisasi
Often, it is impossible or difficult to list all the options and the budget constraint as the last section does. There can be simpler ways to approach this problem. Seringkali, tidak mungkin atau sulit untuk melihat semua pilihan dan batasan anggaran sebagai bagian terakhir ini. Ada dapat cara sederhana untuk pendekatan masalah ini. The overview suggested that we could break the question into a series of questions. The gambaran menyarankan bahwa kita bisa memecahkan pertanyaan menjadi sebuah rangkaian pertanyaan. We begin by assuming that all money is used to buy shirts, which, in this example, means that the person buys five shirts. Kita mulai dengan asumsi bahwa semua uang digunakan untuk membeli baju, yang, dalam contoh ini, berarti bahwa orang tersebut membeli lima shirt. Then, we ask whether the person is better off buying one hamburger than buying none. Lalu, kita bertanya apakah orang itu lebih baik membeli satu hamburger daripada membeli tidak ada. To answer this question, we need to compute the costs and benefits of making this change. Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu untuk menghitung biaya dan manfaat dari melakukan perubahan ini. Using the example from the previous section , the added benefit of the first hamburger is eight utils. Dengan menggunakan contoh dari bagian sebelumnya , manfaat tambahan hamburger pertama adalah delapan util. To compute the cost of making this change, we must remember the budget constraint. Untuk menghitung biaya pembuatan perubahan ini, kita harus ingat batasan anggaran. To get a hamburger, the person must sacrifice a shirt. Untuk mendapatkan hamburger, orang harus mengorbankan kemeja. Because he began with five, he will be left with four. Karena dia mulai dengan lima, ia akan dibiarkan dengan empat. As a result, the utility he gets from shirts will decline by one util, and this is the cost of adding a hamburger. Akibatnya, utilitas ia dapatkan dari kemeja akan menurun oleh satu util, dan ini adalah biaya penambahan hamburger. Since the change adds benefits of eight utils at a cost of one util, this is a smart change to make. Sejak mengubah menambahkan manfaat dari delapan utils dengan biaya satu util, ini adalah perubahan cerdas untuk membuat.
Benefits Measured in Utils (from last section) Manfaat Diukur dalam Utils (dari bagian terakhir)
Amount Jumlah
Utils from Shirts Utils dari Shirts
Utils from Hamburgers Utils dari Hamburger
1 1
11 11
8 8
2 2
20 20
15 15
3 3
27 27
21 21
4 4
31 31
26 26
5 5
32 32
30 30
Now, we ask if another change is worthwhile. Sekarang, kita bertanya apakah perubahan lain adalah berharga. What will the costs and benefits of adding a second hamburger be? Apa yang akan biaya dan manfaat menambahkan hamburger kedua itu? The table says that the utility of two hamburgers is 15. Tabel tersebut mengatakan bahwa utilitas dua hamburger adalah 15. Because eight of those utils come from the first hamburger, the added utility of the second hamburger is seven. Karena delapan dari mereka utils berasal dari hamburger pertama, utilitas tambahan hamburger kedua adalah tujuh. Because the budget constraint forces the person to give up his fourth shirt in order to obtain this hamburger, utility from shirts will drop from 31 utils to 27 utils, a loss of four utils. Karena batasan anggaran memaksa seseorang untuk memberikan baju keempat untuk mendapatkan hamburger ini, utilitas dari kaos akan turun dari 31 util menjadi 27 util, kehilangan empat util. Thus, the benefits of adding the second hamburger are seven utils, and the cost is a loss of four utils. Dengan demikian, manfaat dari penambahan hamburger kedua adalah tujuh util, dan biaya adalah kehilangan empat util. Adding the second hamburger is also a smart move because it increases total utility. Menambahkan hamburger kedua juga merupakan langkah yang cerdas karena meningkatkan utilitas total.
The third hamburger is not worth obtaining. Hamburger ketiga tidak layak mendapatkan. The benefit of adding the third is six utils (moving from 15 to 21 utils in the table). Manfaat penambahan ketiga adalah enam utils (bergerak 15-21 utils dalam tabel). But this move requires the person to move from three shirts to two, and in this move, seven utils from shirts are given up. Namun langkah ini membutuhkan seseorang untuk berpindah dari tiga shirt ke dua, dan dalam langkah ini, tujuh utils dari shirt menyerah. Because the cost of adding the third hamburger (seven utils) is greater than the benefits of this hamburger (six utils), the person should not add it. Karena biaya penambahan hamburger ketiga (tujuh utils) lebih besar daripada manfaat dari hamburger (enam util), orang tersebut tidak boleh menambahkan hal itu.
Economists call the approach taken in the preceding paragraphs the marginal approach. Para ekonom menyebut pendekatan yang diambil di paragraf sebelumnya pendekatan marjinal. Thinking on the margin means that a person is asking what the effects of small changes will be. Berpikir margin berarti bahwa seseorang menanyakan apa efek dari perubahan kecil akan. In this approach one considers marginal costs and marginal benefits. The marginal cost of a change is the additional cost caused by the change. Dalam pendekatan ini kita menganggap biaya marjinal dan manfaat marjinal. Biaya marjinal adalah perubahan biaya tambahan yang disebabkan oleh perubahan. The marginal benefit of the change is the additional benefit caused by the change. Manfaat marjinal perubahan adalah penambahan manfaat yang disebabkan oleh perubahan. The marginal approach suggests that one should make all the changes that increase benefits more than they increase costs (or that reduce costs by more than they reduce benefits). Pendekatan marjinal menyarankan bahwa seseorang harus membuat semua perubahan yang kenaikan manfaat lebih dari yang mereka meningkatkan biaya (atau yang mengurangi biaya lebih dari yang mereka mengurangi manfaat). When all these changes have been made, one will find oneself at a point for which marginal costs equal marginal benefits. Ketika semua perubahan ini telah dibuat, kita akan menemukan diri di titik yang sama dengan biaya marginal manfaat marjinal. This rule for finding the best level of an activity is called the maximization principle. Aturan ini untuk menemukan level terbaik dari kegiatan ini disebut prinsip maksimalisasi.
Costs and Benefits of Hamburgers Biaya dan Manfaat Hamburger
Which Hamburger Yang Hamburger
Marginal Benefit of Hamburgers Marjinal Manfaat Hamburger
Marginal Cost of Hamburgers Biaya Marginal Hamburger
. .
Number of Hamburgers Jumlah Hamburger
Total Benefit of Hamburgers Jumlah Manfaat Hamburger
Total Cost of Hamburgers Total Biaya Hamburger
Net Benefit Manfaat Bersih
First Pertama
8 8
1 1
1 1
8 8
1 1
7 7
Second Kedua
7 7
4 4
2 2
15 15
5 5
10 10
Third Ketiga
6 6
7 7
3 3
21 21
12 12
9 9
Fourth Keempat
5 5
9 9
4 4
26 26
21 21
5 5
Fifth Kelima
4 4
11 11
5 5
30 30
32 32
-2 -2
To see that the maximization principle does generate the largest net benefits, the problem of how many hamburgers to buy can be analyzed with total costs and total benefits. Untuk melihat bahwa prinsip maksimalisasi tidak menghasilkan keuntungan bersih terbesar, masalah bagaimana hamburger banyak untuk membeli dapat dianalisis dengan total biaya dan manfaat total. This analysis is illustrated in the table above. Analisis ini diilustrasikan dalam tabel di atas. Columns two and three show marginal costs and benefits, and the way in which they were obtained has been described in the previous paragraphs. Kolom dua dan tiga menunjukkan biaya marjinal dan manfaat, dan cara di mana mereka diperoleh telah dijelaskan pada paragraf sebelumnya. Total benefits of hamburgers are taken from the first table. Jumlah manfaat hamburger diambil dari tabel pertama.
Total Costs are obtained from column two of the first table and depend on the budget constraint. Total biaya diperoleh dari kolom dua tabel pertama dan bergantung pada batasan anggaran. The total cost of three hamburgers, for example, will be the lost utility of three shirts. Total biaya tiga hamburger, misalnya, akan utilitas hilang tiga kemeja. Because five shirts give 32 utils, and losing three leaves only two giving 20 utils, the total cost of three hamburgers is 12 utils. Karena lima shirt memberikan 32 util, dan kehilangan tiga daun hanya dua memberikan 20 util, total biaya tiga hamburger adalah 12 util. The Net Benefit column in the second table is found by subtracting total cost from total benefit. Kolom Manfaat bersih pada tabel kedua adalah ditemukan dengan mengurangi total biaya dari total manfaat. At two hamburgers, the total utility will be ten utils higher than at the starting point of five shirts and no hamburgers. Pada dua hamburger, utilitas total akan menjadi sepuluh utils lebih tinggi dari pada titik awal dari lima kemeja dan tidak ada hamburger.
You should see that if one has total cost one can obtain marginal cost, and if one has total benefit one can obtain marginal benefit, and vice versa. Anda harus melihat bahwa jika seseorang memiliki satu biaya total dapat memperoleh biaya marjinal, dan jika seseorang memiliki satu manfaat total dapat memperoleh manfaat marjinal, dan sebaliknya. The formula for marginal cost is: Rumus untuk biaya marjinal:
Marginal Cost = (Change in total cost)/(Change in activity) Biaya Marginal = (Perubahan total biaya) / (Perubahan dalam kegiatan)
Thus, if a business knows that the total cost of producing 98 shirts is $398 and the total cost of producing 100 is $400, the marginal cost of the 100th shirt is approximately $2/2 = $1.00. Jadi, jika bisnis tahu bahwa biaya total untuk memproduksi 98 kaos adalah $ 398 dan total biaya produksi 100 adalah $ 400, biaya marjinal dari kemeja ke-100 adalah sekitar $ 2 / 2 $ = 1.00. Notice that marginal cost is not the same as average cost, which is found by dividing total cost by output. Perhatikan bahwa biaya marjinal tidak sama dengan biaya rata-rata, yang ditemukan dengan membagi total biaya dengan output. Alternatively, if one knows the marginal cost or benefit, one can find the total cost or total benefit by adding up all the marginals. Atau, jika ada yang tahu biaya marjinal, atau manfaat, seseorang dapat menemukan biaya total atau manfaat total dengan menjumlahkan semua marjinal. (Check the second table to see that this is so.) (Periksa tabel kedua untuk melihat bahwa itu adalah benar.)
These results can also be shown graphically. Hasil ini juga dapat ditampilkan secara grafis. In the picture below the total costs and benefits from the second table have been graphed. Pada gambar di bawah total biaya dan manfaat dari tabel kedua telah grafiknya. The goal of the person, to maximize net benefits, requires that the person try to find the point where the total benefit curve is at its greatest vertical distance above the total cost curve. Tujuan dari orang, untuk memaksimalkan keuntungan bersih, mensyaratkan bahwa orang yang mencoba mencari titik di mana kurva manfaat total pada jarak vertikal terbesar di atas kurva biaya total. (Here is one case in which the person does not want to end up at the intersection. Can you see why?) At this point, the total cost and total benefit curves have the same slopes. (Berikut adalah salah satu kasus di mana orang tersebut tidak ingin berakhir di persimpangan. Bisakah Anda melihat mengapa?) Pada titik ini, total biaya dan kurva manfaat total mempunyai lereng yang sama. Before this point, the total benefit curve is steeper, so they are moving apart. Sebelum titik ini, kurva manfaat total curam, sehingga mereka bergerak terpisah. After this point, they are moving together, which means that the total cost curve has the steeper slope. Setelah titik ini, mereka bergerak bersama-sama, yang berarti bahwa kurva total biaya memiliki lereng curam.
Jumlah Biaya dan Manfaat, Biaya Marjinal dan Manfaat
The slope of the total benefit (or cost) curve is the rise over the run, or the change in total benefit (or cost) divided by the change in the number of hamburgers. Kemiringan manfaat total (atau biaya) kurva adalah meningkat selama menjalankan, atau perubahan manfaat total (atau biaya) dibagi dengan perubahan dalam jumlah hamburger. But the marginal benefit (cost) of hamburgers is also defined as the change in total benefit (cost), divided by the change in the number of hamburgers. Namun manfaat marjinal (biaya) dari hamburger juga didefinisikan sebagai perubahan manfaat total (biaya), dibagi dengan perubahan dalam jumlah hamburger. Hence, the slope of the total benefit curve is marginal benefit and the slope of the total cost curve is marginal cost. Oleh karena itu, kemiringan kurva total manfaat manfaat marjinal dan kemiringan kurva biaya total biaya marjinal.
This idea is used to construct the marginal benefit and marginal cost curves in the bottom of the picture above. Ide ini digunakan untuk membangun manfaat marjinal dan kurva biaya marjinal di bagian bawah gambar di atas. The marginal curves are obtained by graphing the slopes of the total curves. Kurva marjinal diperoleh dengan grafik lereng kurva total. The point at which they cross corresponds to the level of activity for which the slopes of the total cost and total benefit curves are equal. Titik di mana mereka menyeberangi sesuai dengan tingkat aktivitas yang lereng total biaya dan kurva manfaat total sama.
We have not exhausted the insights from this simple problem. Kami belum habis wawasan dari masalah yang sederhana. We can also analyze the numbers with the equimarginal principle. Kita juga dapat menganalisa nomor dengan prinsip equimarginal.
Prinsip Equimarginal
At this point, you may think we have exhausted all the insights we can get from the hamburger-shirt problem . Pada titik ini, Anda mungkin berpikir bahwa kita telah kehabisan semua wawasan yang kita dapatkan dari masalah-shirt hamburger . We have not. Kami belum. The table below contains columns showing the marginal utility of shirts and the marginal utility of hamburgers. Tabel di bawah ini berisi kolom menunjukkan utilitas marjinal kemeja dan utilitas marjinal dari hamburger. These marginal utilities are obtained from our original example , which shows the total utility of one shirt, two shirts, etc. Marginal utility is the utility of the first shirt, the second shirt, etc. Thus, the utility of the fourth hamburger is found by subtracting the utility of four hamburgers from the utility of three hamburgers. Marjinal utilitas ini diperoleh dari contoh asli kita , yang menunjukkan jumlah utilitas dari satu baju, dua baju, dll utilitas marjinal utilitas dari kemeja pertama, kemeja kedua, dll Dengan demikian, utilitas dari hamburger keempat ditemukan dengan mengurangkan utilitas empat hamburger dari utilitas tiga hamburger. Notice that the marginal utility of each good declines as more of it is used. Perhatikan bahwa masing-masing utilitas marjinal menurun baik sebagai lebih dari itu digunakan. This is a case of diminishing returns that has the special title of " the law of diminishing marginal utility. " Ini adalah kasus hasil yang menurun yang memiliki judul khusus "hukum utilitas marginal yang semakin menurun." It is based on everyday observation and introspection. Hal ini didasarkan pada pengamatan sehari-hari dan introspeksi. After four beers, a fifth gives less pleasure than the fourth, a third hamburger gives less satisfaction than the second, etc. Setelah empat bir, kelima yang memberikan kesenangan kurang dari yang keempat, sebuah hamburger ketiga memberikan kepuasan kurang dari yang kedua, dll
The Equimarginal Principle, or How to Spend Your Last Dollar Prinsip Equimarginal, atau Bagaimana Menghabiskan Dolar Terakhir Anda
Number Nomor
Marginal Utility of Shirts Marginal Utility dari Shirts
Marginal Utility of Hamburgers Marginal Utility dari Hamburger
First Pertama
11 11
8 8
Second Kedua
9 9
7 7
Third Ketiga
7 7
6 6
Fourth Keempat
4 4
5 5
Fifth Kelima
1 1
4 4
Suppose that the person is not at the optimal solution of three shirts and two hamburgers. Misalkan orang itu tidak pada solusi optimal dari tiga baju dan dua hamburger. Suppose instead that he has two shirts and three hamburgers. Misalkan bukannya bahwa ia memiliki dua kemeja dan tiga hamburger. Can we tell from the table that he has spent his money incorrectly? Dapatkah kita tahu dari tabel bahwa ia telah menghabiskan uangnya salah?
We can. Kita bisa. Shirts and hamburgers cost the same. Kemeja dan hamburger biaya yang sama. Suppose that each costs $1.00 and the person has $5.00 to spend. Misalkan bahwa setiap biaya $ 1,00 dan orang tersebut memiliki $ 5.00 sampai menghabiskan. Then the last dollar spent on hamburgers gave the person only six utils, whereas the last dollar spent on shirts gave him nine utils. Kemudian dolar terakhir dibelanjakan untuk hamburger memberi orang hanya enam util, sedangkan dolar terakhir dibelanjakan untuk kaos memberinya sembilan util. The dollar spent on shirts gave a much larger return, and if he could shift money from the area in which it is giving a low return to the area in which it has a high return, he will be better off. Dolar yang dihabiskan untuk kemeja memberikan return yang jauh lebih besar, dan jika ia bisa mengalihkan uang dari daerah di mana ia memberikan kembali rendah ke daerah yang memiliki return tinggi, ia akan lebih baik. This is the basic idea of the equimarginal principle . Ini adalah ide dasar dari prinsip equimarginal. Maximization occurs when the return on the last dollar spent is the same in all areas. Maksimalisasi terjadi ketika kembali pada dolar terakhir yang dibelanjakan adalah sama di semua area. In terms of a formula, a person wants Dalam hal formula, seseorang ingin
(Marginal Benefit of A)/(Price of A) = (Marginal Benefit of B)/(Price of B) (Manfaat Marginal A) / (Harga A) = (Manfaat Marginal B) / (Harga B)
The power of this idea can be shown if we change the original problem. Kekuatan ide ini dapat ditampilkan jika kita mengubah masalah asli. Suppose that the person still has $5.00 to spend, but the price of shirts doubles from $1.00 to $2.00. Misalkan bahwa orang tersebut masih memiliki $ 5.00 sampai menghabiskan, tetapi harga kaos ganda dari $ 1,00 sampai $ 2.00. The old solution of three shirts and two hamburgers will no longer be affordable but will lie to the right of the budget line . Solusi tua dari tiga kemeja dan dua hamburger tidak akan lagi terjangkau tapi akan terletak di sebelah kanan dari garis anggaran . To solve this new problem, two new columns must be added to our table: the marginal utility of shirts per dollar and the marginal utility of hamburgers per dollar. Untuk mengatasi masalah ini baru, dua kolom baru harus ditambahkan ke meja kami: utilitas marjinal kaos per dolar dan utilitas marjinal dari hamburger per dolar. The table below adds them in columns MUs/(Price of Shirts) (the marginal utility of shirts divided by the price of shirts) and MUh/Price of Hamburgers). Tabel di bawah ini menambahkan mereka dalam unit manajemen kolom / (Harga Shirts) (utilitas marjinal kemeja dibagi dengan harga shirt) dan Muh / Harga Hamburger).
The Equimarginal Principle, Continued Prinsip Equimarginal, Lanjutan
Number Nomor
Marginal Utility of Shirts Marginal Utility dari Shirts
MUs Unit manajemen
Price of Shirts Harga Shirts
Marginal Utility of Hamburgers Marginal Utility dari Hamburger
MUh Muh
Price of Hamburgers Harga Hamburger
First Pertama
11 11
5 1/2 5 1 / 2
8 8
8 8
Second Kedua
9 9
4 1/2 4 1 / 2
7 7
7 7
Third Ketiga
7 7
3 1/2 3 1 / 2
6 6
6 6
Fourth Keempat
4 4
2 2
5 5
5 5
Fifth Kelima
1 1
1/2 1 / 2
4 4
4 4
The equimarginal principle tells us to maximize utility by selecting the highest values in the columns giving marginal utility per dollar until our budget is used up. Prinsip equimarginal memberitahu kita untuk memaksimalkan utilitas dengan memilih nilai-nilai tertinggi di kolom memberikan utilitas marjinal per dolar hingga anggaran kita habis. A person with only two dollars should buy two hamburgers rather than one shirt because both eight and seven are larger than five and one half. Seseorang dengan hanya dua dolar harus membeli dua hamburger daripada satu kemeja karena baik delapan dan tujuh lebih besar dari lima dan satu setengah. A person with $5.00, as in our example, should buy three hamburgers and one shirt. Seseorang dengan $ 5.00, seperti pada contoh kita, harus membeli tiga hamburger dan satu kemeja. This decision does not quite equalize returns on the last dollars spent on shirts and hamburgers, but it comes as close as possible. Keputusan ini tidak cukup menyamakan kembali pada dolar terakhir yang dibelanjakan pada kemeja dan hamburger, tetapi ia datang sedekat mungkin. Any other combination would give less utility and would allow for further improvement. Kombinasi lain akan memberikan utilitas kurang dan akan memungkinkan untuk perbaikan lebih lanjut. For example, if one bought two shirts and one hamburger, the extra satisfaction from a dollar spent on shirts is only four and one half utils, whereas shifting money to hamburgers would allow one to get seven utils per dollar. Sebagai contoh, jika seseorang membeli dua kemeja dan satu hamburger, kepuasan ekstra dari dolar yang dihabiskan untuk kemeja adalah utils hanya setengah empat dan satu, sedangkan pergeseran uang untuk hamburger akan memungkinkan seseorang untuk mendapatkan tujuh utils per dolar.
Next we see theory in practice with rational ignorance. Selanjutnya kita lihat teori dalam praktek dengan kebodohan rasional.
Ketidaktahuan Rasional
Marginalism is an application of the basic idea of calculus, and though calculus was invented a century before Adam Smith, it was a century after Smith when economists realized its significance. Marginalism adalah sebuah aplikasi dari ide dasar kalkulus, dan meskipun kalkulus ditemukan satu abad sebelum Adam Smith, itu adalah abad setelah Smith ketika ekonom menyadari arti pentingnya. This "marginalist revolution" greatly clarified economic theory. Ini "revolusi marginalist" sangat mengklarifikasi teori ekonomi. The better understanding of their theory has prompted economists to search for new areas in which to use it. Pemahaman teori mereka lebih baik telah mendorong ekonom untuk mencari area baru di mana untuk menggunakannya. We conclude this section with a visit to an area that economists have explored fairly recently. Kami menyimpulkan bagian ini dengan kunjungan ke daerah yang ekonom telah dieksplorasi cukup baru-baru ini.
A person purchasing a new car usually spends time learning about various makes of cars and shopping for prices. Seseorang membeli mobil baru biasanya menghabiskan waktu belajar tentang membuat berbagai mobil dan berbelanja untuk harga. The more effort spent in these activities, the more one's knowledge about cars and their prices increases. Upaya lebih banyak dihabiskan dalam kegiatan ini, pengetahuan yang lebih tentang mobil dan mereka harga meningkat. Because time is limited, and spending time searching for information means that one cannot use that time for other purposes, there is a limit on how much knowledge is worthwhile to gain. Karena waktu terbatas, dan menghabiskan waktu untuk mencari informasi berarti bahwa seseorang tidak bisa menggunakan waktu untuk tujuan lain, ada batas pada seberapa banyak pengetahuan yang berharga untuk mendapatkan. After some amount of reading, talking to friends and acquaintances, and visiting automobile dealers, a person finds that the extra benefit of another hour spent on these activities is less than the value of that hour spent in other pursuits. Setelah beberapa jumlah membaca, berbicara dengan teman-teman dan kenalan, dan mengunjungi dealer mobil, seseorang menemukan bahwa manfaat tambahan satu jam dihabiskan untuk kegiatan ini adalah kurang dari nilai yang jam dihabiskan dalam kegiatan lainnya. When one judges that this point has been reached, one stops searching and makes a decision. Ketika salah satu hakim yang saat ini telah tercapai, satu berhenti mencari dan membuat keputusan.
The amount of time people spend obtaining information differs from product to product. Jumlah waktu yang dihabiskan orang memperoleh informasi berbeda dari produk ke produk. They will spend less time learning about the bicycle they give their child than they will learning about a new car, less time deciding which brand of soup to buy than in deciding which house to purchase, and less time deciding which brand of dog food is best for Rover than in finding a college for their first-born. Mereka akan menghabiskan lebih sedikit waktu belajar tentang sepeda mereka memberi anak mereka daripada mereka akan belajar tentang mobil baru, sedikit waktu memutuskan merek sup untuk membeli dari dalam memutuskan yang rumah untuk membeli, dan sedikit waktu memutuskan merek makanan anjing yang terbaik untuk Rover dari dalam mencari perguruan tinggi untuk pertama mereka lahir. The larger the purchase, the larger the potential benefit of a few hours spent learning about the purchase. Semakin besar pembelian, semakin besar potensi manfaat beberapa jam menghabiskan waktu belajar tentang pembelian.
The government has many policies that involve major sums of money. Pemerintah telah banyak kebijakan yang melibatkan sejumlah besar uang. For example, a major weapons system in the defense department can cost $50 billion. Sebagai contoh, sistem senjata utama dalam departemen pertahanan dapat biaya $ 50 miliar. This amounts to about $200 for every person in the United States, or $1000 for a family of five. Jumlah ini sekitar $ 200 untuk setiap orang di Amerika Serikat, atau $ 1000 untuk sebuah keluarga lima. Yet few people spend much time studying these policies. Namun sedikit orang yang menghabiskan banyak waktu untuk mempelajari kebijakan tersebut. A reason is that to understand them requires many hours of study, and the probability that an understanding of them will change them in any way is very small. Alasannya adalah bahwa untuk memahami mereka membutuhkan banyak jam penelitian, dan probabilitas bahwa pemahaman mereka akan mengubah mereka dengan cara apapun sangat kecil. Thus, for most citizens the benefit of learning about a program that does not directly affect them is small, the cost is large, and they end up not knowing much about the program. Dengan demikian, untuk sebagian besar warga kepentingan belajar tentang program yang tidak secara langsung mempengaruhi mereka yang kecil, biaya yang besar, dan mereka akhirnya tidak tahu banyak tentang program tersebut. Economists say that these poorly informed citizens are rationally ignorant. Para ekonom mengatakan bahwa informasi ini adalah warga kurang rasional bodoh.
Rational ignorance is pervasive and necessary. ketidaktahuan rasional adalah luas dan perlu. There is vastly more to know than any one person can possibly know. Ada jauh lebih mengetahui daripada satu orang mungkin bisa tahu. To survive and prosper in the world, one must seek that knowledge that will be personally beneficial. Untuk bertahan hidup dan berkembang di dunia, seseorang harus mencari pengetahuan yang akan secara pribadi menguntungkan. Most people would consider someone a bit odd who was not planning to buy a car but who still went from dealer to dealer trying to learn all he could about car prices in the name of intellectual curiosity. Kebanyakan orang akan menganggap seseorang agak aneh yang tidak berencana untuk membeli mobil tapi yang masih pergi dari dealer ke dealer mencoba untuk belajar semua yang dia bisa harga mobil sekitar dalam nama keingintahuan intelektual. The behavior of most citizens suggests that they also consider odd the seeking of in-depth knowledge about the pros and cons of a specific government policy if that knowledge does not directly benefit the person who gets it. Perilaku dari sebagian besar warga menunjukkan bahwa mereka juga menganggap aneh yang mencari pengetahuan yang mendalam mengenai pro dan kontra dari kebijakan pemerintah yang spesifik jika pengetahuan yang tidak langsung mendapatkan keuntungan orang yang mendapatkannya. The cost-benefit reasoning that leads to the idea of rational ignorance implies that people will be better informed about the choices they make in the marketplace than about those they make in the voting booth. Alasan biaya-manfaat yang mengarah ke gagasan rasional kebodohan menyiratkan bahwa orang akan lebih banyak informasi mengenai pilihan yang mereka buat di pasar dari sekitar yang mereka buat dalam bilik suara.
A look at costs and benefits not only explains why few citizens understand the subtleties of most government policies, but it also explains why about one half of the eligible voters in the United States do not vote. Sebuah melihat biaya dan manfaat tidak hanya menjelaskan mengapa beberapa warga memahami seluk-beluk kebijakan pemerintah yang paling, tetapi juga menjelaskan mengapa sekitar satu setengah dari pemilih yang berhak di Amerika Serikat tidak memilih. The probability that one's vote will be the crucial vote that decides an important election is small. Probabilitas bahwa satu suara akan menjadi suara penting yang menentukan pemilihan penting adalah kecil. Even if one's vote is the crucial vote that breaks the tie, one may not like the outcome--many people regret the way they voted when they compare actual performance with campaign promises. Bahkan jika satu suara adalah suara penting yang mengikat istirahat, seseorang tidak mungkin seperti hasilnya - banyak orang menyesal cara mereka memberikan suara ketika mereka membandingkan kinerja aktual dengan janji-janji kampanye. Given these small benefits compared to the costs of time and transportation that voting entails, it is not surprising that many people who are eligible to vote do not. Mengingat manfaat kecil dibandingkan dengan biaya waktu dan transportasi yang memerlukan suara, tidak mengherankan bahwa banyak orang yang berhak memilih tidak. What is surprising is that the percentage of people voting is not even smaller. Apa yang mengejutkan adalah bahwa persentase suara orang bahkan tidak lebih kecil. It seems likely that there are other benefits to voting that have not yet been mentioned. Agaknya ada manfaat lain untuk suara, yang belum disebutkan.
Politics is in many ways a spectator sport, with all the excitement and drama of football or baseball. Politik dalam banyak hal olahraga penonton, dengan segala kegembiraan dan drama sepak bola atau baseball. Voting may be enjoyable in the same way as watching and cheering on a favorite ball team. Voting mungkin menyenangkan dalam cara yang sama seperti menonton dan bersorak-sorai pada tim bola favorit. Indeed, voting against a politician one does not like is enjoyable, even if it does not result in his defeat. Memang, suara terhadap satu politisi tidak suka menyenangkan, bahkan jika itu tidak mengakibatkan kekalahannya. Another explanation for voting is that people have a sense of public duty. Penjelasan lain untuk pemungutan suara adalah bahwa orang memiliki rasa kewajiban publik. They want to be good citizens, and voting may seem important regardless of its effect--the act of voting itself can be important as a symbolic act. Mereka ingin menjadi warga negara yang baik, dan suara mungkin tampak penting terlepas dari efek - tindakan pemungutan suara itu sendiri dapat menjadi penting sebagai tindakan simbolik. One other possibility is that people may overestimate the importance of their vote and the probability that theirs will be the ballot that decides an election. Salah satu kemungkinan lain adalah bahwa orang mungkin melebih-lebihkan pentingnya suara mereka dan probabilitas bahwa mereka akan menjadi pemungutan suara yang memutuskan pemilihan.
In contrast to elections in the United States, elections in the old Communist-bloc nations were predictable. Berbeda dengan pemilu di Amerika Serikat, pemilu di negara-negara Komunis-blok lama yang diprediksi. There was no doubt about who would win. Tidak ada keraguan tentang siapa yang akan menang. Yet, these countries reported impressive percentages--sometimes more than 99%, of their citizens voted. Namun, negara-negara melaporkan persentase mengesankan - kadang-kadang lebih dari 99%, warganya memilih. Anyone who understands how to reason in terms of costs and benefits should be able to explain the implications of very high participation rates in meaningless elections. Siapa saja yang mengerti bagaimana untuk alasan dalam hal biaya dan manfaat harus bisa menjelaskan implikasi dari tingkat partisipasi sangat tinggi dalam pemilu berarti.
Keep the rationally ignorant voter in mind when interpreting polls that ask citizens their opinions about complex public issues. Jauhkan pemilih rasional bodoh dalam pikiran ketika menafsirkan jajak pendapat yang meminta pendapat warga mereka tentang isu-isu publik yang rumit. The idea that voters are rationally ignorant also has implications for how governments work . Gagasan bahwa pemilih rasional bodoh juga memiliki implikasi untuk bagaimana pemerintah bekerja .
MACAM-MACAM SISTEM EKONOMI
MACAM-MACAM SISTEM EKONOMI
1. Sistem Ekonomi Tradisional
Sistem ekonomi tradisional merupakan sistem ekonomi yang diterapkan oleh masyarakat zaman dahulu. Dalam sistem ekonomi ini, nilai-nilai sosial, kebudayaan, dan kebiasaan masyarakat setempat sangat berpengaruh kuat. Dalam bidang produksi, biasanya mereka hanya memproduksi untuk diri sendiri saja. Oleh karena itu, sistem ekonomi tradisional ini sangat sederhana sehingga tidak lagi bisa menjawab permasalahan ekonomi yang semakin berkembang.
Terdapat beberapa ciri sistem ekonomi tradisional sebagai berikut:
a) aturan yang dipakai adalah aturan tradisi, adat istiadat, dan kebiasaan.
b) kehidupan masyarakatnya sangat sederhana.
c) kehidupan gotong-royong dan kekeluargaan sangat dominan.
d) teknologi produksi yang digunakan masih sangat sederhana.
2. Sistem Ekonomi Sosialis atau Komando
Sistem ekonomi komando sering juga disebut sebagai sistem ekonomi sosialis atau terpusat. Sistem ekonomi komando merupakan sistem ekonomi yang menghendaki pengaturan perekonomian dilakukan oleh pemerintah secara terpusat. Oleh karena itu, dalam sistem ekonomi ini peranan pemerintah dalam berbagai kegiatan ekonomi sangat dominan.
Tokoh yang memopulerkan sistem ekonomi komando adalah Karl Marx. Ia adalah seorang ahli filsafat berkebangsaan Jerman. Bukunya yang terkenal berjudul Das Capital. Dalam sistem ekonomi komando, semua kegiatan ekonomi diatur dan direncanakan oleh pemerintah. Pihak swasta tidak memiliki kewenangan dalam kegiatan perekonomian. Semua permasalahan perekonomian yang meliputi what, how, dan for whom semuanya dipecahkan melalui perencanaan pemerintah pusat sehingga semua alat produksi dikuasai oleh pemerintah. Sistem ekonomi komando banyak dianut oleh negara-negara di Eropa Timur dan Cina.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan ciri-ciri sistem perekonomian komando adalah sebagai berikut:
a) semua permasalahan ekonomi dipecahkan oleh pemerintah pusat.
b) kegiatan ekonomi yang meliputi produksi, distribusi, dan konsumsi diatur oleh negara.
c) semua alat produksi dikuasai oleh negara sehingga kepemilikan oleh individu atau pihak swasta tidak diakui.
3. Sistem Ekonomi Pasar
Sistem ekonomi pasar sering juga disebut sistem ekonomi liberal. Sistem ekonomi pasar merupakan sistem ekonomi yang menghendaki pengolahan dan pemanfaatan sumber daya di dalam perekonomian yang dilakukan oleh individu dan terbebas dari campur tangan pemerintah. Jadi, sistem ekonomi pasar sangat bertolak belakang dengan sistem ekonomi komando.
Tokoh yang memopulerkan sistem ekonomi pasar adalah Adam Smith. Bukunya yang terkenal berjudul The Wealth of Nation. Adam Smith menyatakan bahwa “perekonomian akan berjalan dengan baik apabila pengaturannya diserahkan kepada mekanisme pasar atau mekanisme harga”. Teori ini kemudian dikenal dengan sebutan The Invisible Hands. Sistem ekonomi pasar banyak dianut oleh negara Eropa Barat dan Amerika Serikat.
Terdapat beberapa ciri sistem perekonomian pasar, di antaranya sebagai berikut:
a) setiap individu memiliki kebebasan untuk memiliki faktor-faktor produksi.
b) perekonomian diatur oleh mekanisme pasar.
c) peranan modal dalam perekonomian sangat menentukan bagi setiap individu untuk menguasai sumber-sumber ekonomi sehingga dapat menciptakan efisiensi.
d) peranan pemerintah dalam perekonomian sangat kecil.
e) hak milik atas alat-alat produksi dan distribusi merupakan hak milik perseorangan yang dilindungi sepenuhnya oleh negara.
4. Sistem Ekonomi Campuran
Sistem ekonomi campuran merupakan sistem ekonomi yang lahir sebagai alternatif dari sistem ekonomi komando dan sistem ekonomi pasar. Sistem ekonomi campuran ini mengambil kelebihan dari sistem ekonomi komando dan sistem ekonomi pasar. Dalam sistem ekonomi campuran, persoalan organisasi ekonomi sebagian dipecahkan melalui mekanisme pasar dan sebagian lagi dipecahkan melalui perencanaan pemerintah pusat.
Terdapat beberapa ciri sistem ekonomi campuran, di antaranya sebagai berikut:
a) hak milik individu atas faktor-faktor produksi diakui, tetapi ada pembetasan dari pemerintah.
b) kebebasan bagi individu untuk berusaha tetap ada sehingga setiap individu memiliki hak untuk mengembangkan kreativitasnya sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya.
c) kepentingan umum lebih diutamakan.
d) campur tangan pemerintah dalam perekonomian hanya menyangkut faktor-faktor yang menguasai hajat hidup orang banyak.
1. Sistem Ekonomi Tradisional
Sistem ekonomi tradisional merupakan sistem ekonomi yang diterapkan oleh masyarakat zaman dahulu. Dalam sistem ekonomi ini, nilai-nilai sosial, kebudayaan, dan kebiasaan masyarakat setempat sangat berpengaruh kuat. Dalam bidang produksi, biasanya mereka hanya memproduksi untuk diri sendiri saja. Oleh karena itu, sistem ekonomi tradisional ini sangat sederhana sehingga tidak lagi bisa menjawab permasalahan ekonomi yang semakin berkembang.
Terdapat beberapa ciri sistem ekonomi tradisional sebagai berikut:
a) aturan yang dipakai adalah aturan tradisi, adat istiadat, dan kebiasaan.
b) kehidupan masyarakatnya sangat sederhana.
c) kehidupan gotong-royong dan kekeluargaan sangat dominan.
d) teknologi produksi yang digunakan masih sangat sederhana.
2. Sistem Ekonomi Sosialis atau Komando
Sistem ekonomi komando sering juga disebut sebagai sistem ekonomi sosialis atau terpusat. Sistem ekonomi komando merupakan sistem ekonomi yang menghendaki pengaturan perekonomian dilakukan oleh pemerintah secara terpusat. Oleh karena itu, dalam sistem ekonomi ini peranan pemerintah dalam berbagai kegiatan ekonomi sangat dominan.
Tokoh yang memopulerkan sistem ekonomi komando adalah Karl Marx. Ia adalah seorang ahli filsafat berkebangsaan Jerman. Bukunya yang terkenal berjudul Das Capital. Dalam sistem ekonomi komando, semua kegiatan ekonomi diatur dan direncanakan oleh pemerintah. Pihak swasta tidak memiliki kewenangan dalam kegiatan perekonomian. Semua permasalahan perekonomian yang meliputi what, how, dan for whom semuanya dipecahkan melalui perencanaan pemerintah pusat sehingga semua alat produksi dikuasai oleh pemerintah. Sistem ekonomi komando banyak dianut oleh negara-negara di Eropa Timur dan Cina.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan ciri-ciri sistem perekonomian komando adalah sebagai berikut:
a) semua permasalahan ekonomi dipecahkan oleh pemerintah pusat.
b) kegiatan ekonomi yang meliputi produksi, distribusi, dan konsumsi diatur oleh negara.
c) semua alat produksi dikuasai oleh negara sehingga kepemilikan oleh individu atau pihak swasta tidak diakui.
3. Sistem Ekonomi Pasar
Sistem ekonomi pasar sering juga disebut sistem ekonomi liberal. Sistem ekonomi pasar merupakan sistem ekonomi yang menghendaki pengolahan dan pemanfaatan sumber daya di dalam perekonomian yang dilakukan oleh individu dan terbebas dari campur tangan pemerintah. Jadi, sistem ekonomi pasar sangat bertolak belakang dengan sistem ekonomi komando.
Tokoh yang memopulerkan sistem ekonomi pasar adalah Adam Smith. Bukunya yang terkenal berjudul The Wealth of Nation. Adam Smith menyatakan bahwa “perekonomian akan berjalan dengan baik apabila pengaturannya diserahkan kepada mekanisme pasar atau mekanisme harga”. Teori ini kemudian dikenal dengan sebutan The Invisible Hands. Sistem ekonomi pasar banyak dianut oleh negara Eropa Barat dan Amerika Serikat.
Terdapat beberapa ciri sistem perekonomian pasar, di antaranya sebagai berikut:
a) setiap individu memiliki kebebasan untuk memiliki faktor-faktor produksi.
b) perekonomian diatur oleh mekanisme pasar.
c) peranan modal dalam perekonomian sangat menentukan bagi setiap individu untuk menguasai sumber-sumber ekonomi sehingga dapat menciptakan efisiensi.
d) peranan pemerintah dalam perekonomian sangat kecil.
e) hak milik atas alat-alat produksi dan distribusi merupakan hak milik perseorangan yang dilindungi sepenuhnya oleh negara.
4. Sistem Ekonomi Campuran
Sistem ekonomi campuran merupakan sistem ekonomi yang lahir sebagai alternatif dari sistem ekonomi komando dan sistem ekonomi pasar. Sistem ekonomi campuran ini mengambil kelebihan dari sistem ekonomi komando dan sistem ekonomi pasar. Dalam sistem ekonomi campuran, persoalan organisasi ekonomi sebagian dipecahkan melalui mekanisme pasar dan sebagian lagi dipecahkan melalui perencanaan pemerintah pusat.
Terdapat beberapa ciri sistem ekonomi campuran, di antaranya sebagai berikut:
a) hak milik individu atas faktor-faktor produksi diakui, tetapi ada pembetasan dari pemerintah.
b) kebebasan bagi individu untuk berusaha tetap ada sehingga setiap individu memiliki hak untuk mengembangkan kreativitasnya sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya.
c) kepentingan umum lebih diutamakan.
d) campur tangan pemerintah dalam perekonomian hanya menyangkut faktor-faktor yang menguasai hajat hidup orang banyak.
PEREKONOMIAN INDONESIA
PEREKONOMIAN INDONESIA
Sistem ekonomi yang dianut oleh setiap bangsa berbeda-beda. Hal ini sesuai dengan falsafah dan ideologi dari masing-masing negara. Seperti halnya Indonesia, sistem ekonomi yang dianut oleh bangsa Indonesia akan berbeda dengan sistem ekonomi yang dianut oleh Amerika Serikat ataupun negara-negara lainnya. Pada awalnya Indonesia menganut sistem ekonomi liberal, di mana seluruh kegiatan ekonomi diserahkan kepada masyarakat. Akan tetapi karena ada pengaruh komunisme yang disebarkan oleh Partai Komunis Indonesia, maka sistem ekonomi di Indonesia berubah dari sistem ekonomi liberal menjadi sistem ekonomi sosialis.
Pada masa Orde Baru, sistem ekonomi yang dianut oleh bangsa Indonesia diubah kembali menjadi sistem demokrasi ekonomi. Sistem ini bertahan hingga masa Reformasi. Setelah masa Reformasi, pemerintah melaksanakan sistem ekonomi yang berlandaskan ekonomi kerakyatan. Sistem inilah yang masih berlaku di Indonesia.
A. Sistem Ekonomi Indonesia
Sistem ekonomi yang dianut oleh setiap bangsa berbeda-beda. Hal ini sesuai dengan falsafah dan ideologi dari masing-masing negara. Seperti halnya Indonesia, sistem ekonomi yang dianut oleh bangsa Indonesia akan berbeda dengan sistem ekonomi yang dianut oleh Amerika Serikat ataupun negara-negara lainnya. Pada awalnya Indonesia menganut sistem ekonomi liberal, di mana seluruh kegiatan ekonomi diserahkan kepada masyarakat. Akan tetapi karena ada pengaruh komunisme yang disebarkan oleh Partai Komunis Indonesia, maka sistem ekonomi di Indonesia berubah dari sistem ekonomi liberal menjadi sistem ekonomi sosialis.
Pada masa Orde Baru, sistem ekonomi yang dianut oleh bangsa Indonesia diubah kembali menjadi sistem demokrasi ekonomi. Sistem ini bertahan hingga masa Reformasi. Setelah masa Reformasi, pemerintah melaksanakan sistem ekonomi yang berlandaskan ekonomi kerakyatan. Sistem inilah yang masih berlaku di Indonesia. Berikut ini bentuk sistem ekonomi di Indonesia dari masa Orde Baru hingga sekarang.
1. Sistem Ekonomi Demokrasi
Indonesia mempunyai landasan idiil yaitu Pancasila dan landasan konstitusional yaitu UUD 1945. Oleh karena itu, segala bentuk kegiatan
masyarakat dan negara harus berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Sistem perekonomian yang ada di Indonesia juga harus berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Sistem perekonomian nasional yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 disusun untuk mewujudkan demokrasi ekonomi dan dijadikan dasar pelaksanaan pembangunan ekonomi. Sistem perekonomian Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 disebut sistem ekonomi demokrasi. Dengan demikian sistem ekonomi demokrasi dapat didefinisikan sebagai suatu sistem perekonomian nasional yang merupakan perwujudan dari falsafah Pancasila dan UUD 1945 yang berasaskan kekeluargaan dan kegotongroyongan dari, oleh, dan untuk rakyat di bawah pimpinan dan pengawasan pemerintah.
Pada sistem demokrasi ekonomi, pemerintah dan seluruh rakyat baik golongan ekonomi lemah maupun pengusaha aktif dalam usaha mencapai kemakmuran bangsa. Selain itu, negara berperan dalam merencanakan, membimbing, dan mengarahkan kegiatan perekonomian. Dengan demikian terdapat kerja sama dan saling membantu antara pemerintah, swasta, dan masyarakat.
a. Ciri-Ciri Positif Sistem Ekonomi Demokrasi
Berikut ini ciri-ciri dari sistem ekonomi demokrasi.
1) Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan.
2) Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara.
3) Bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat.
4) Sumber-sumber kekayaan dan keuangan negara digunakan untuk permufakatan lembaga-lembaga perwakilan rakyat, serta pengawasan terhadap kebijakan ada pada lembaga-lembaga perwakilan rakyat pula.
5) Warga negara memiliki kebebasan dalam memilih pekerjaan yang dikehendaki serta mempunyai hak akan pekerjaan dan penghidupan yang layak.
6) Hak milik perorangan diakui dan pemanfaatannya tidak boleh bertentangan dengan kepentingan masyarakat.
7) Potensi, inisiatif, dan daya kreasi setiap warga negara dikembangkan sepenuhnya dalam batas-batas yang tidak merugikan kepentingan umum.
8). Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara.
b . Ciri-Ciri Negatif Sistem Ekonomi Demokrasi
Selain memiliki ciri-ciri positif, sistem ekonomi demokrasi juga mempunyai hal-hal yang harus dihindarkan.
1) Sistem free fight liberalism, yaitu sistem persaingan bebas yang saling menghancurkan dan dapat menumbuhkan eksploitasi terhadap manusia dan bangsa lain sehingga dapat menimbulkan kelemahan struktural ekonomi nasional.
2) Sistem etatisme, di mana negara beserta aparatur ekonomi negara bersifat dominan serta mendesak dan mematikan potensi dan daya kreasi unit-unit ekonomi di luar sektor negara.
3) Persaingan tidak sehat dan pemusatan kekuatan ekonomi pada satu kelompok dalam bentuk monopoli yang merugikan masyarakat.
2. Sistem Ekonomi Kerakyatan
Sistem ekonomi kerakyatan berlaku di Indonesia sejak terjadinya Reformasi di Indonesia pada tahun 1998. Pemerintah bertekad melaksanakan sistem ekonomi kerakyatan dengan mengeluarkan ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor IV/MPR/1999, tentang Garis-Garis Besar Haluan Negara yang menyatakan bahwa sistem perekonomian Indonesia adalah sistem ekonomi kerakyatan. Pada sistem ekonomi kerakyatan, masyarakat memegang aktif dalam kegiatan ekonomi, sedangkan pemerintah menciptakan iklim yang sehat bagi pertumbuhan dan perkembangan dunia usaha. Sistem ekonomi kerakyatan mempunyai ciri-ciri berikut ini.
a. Bertumpu pada mekanisme pasar yang berkeadilan dengan prinsip persaingan yang sehat.
b. Memerhatikan pertumbuhan ekonomi, nilai keadilan, kepentingan sosial, dan kualitas hidup.
c. Mampu mewujudkan pembangunan berwawasan lingkungan dan berkelanjutan.
d. Menjamin kesempatan yang sama dalam berusaha dan bekerja.
e. Adanya perlindungan hak-hak konsumen dan perlakuan yang adil bagi seluruh rakyat.
B. Pelaku Utama dalam Sistem Perekonomian Indonesia
Sistem ekonomi kerakyatan sendi utamanya adalah UUD 1945 pasal 33 ayat (1), (2), dan (3). Bentuk usaha yang sesuai dengan ayat (1) adalah koperasi, dan bentuk usaha yang sesuai dengan ayat (2) dan (3) adalah perusahaan negara. Adapun dalam penjelasan pasal 33 UUD 1945 yang berbunyi “hanya perusahaan yang tidak menguasai hajat hidup orang banyak boleh di tangan seorang”. Hal itu berarti perusahaan swasta juga mempunyai andil di dalam sistem perekonomian Indonesia. Dengan demikian terdapat tiga pelaku utama yang menjadi kekuatan sistem perekonomian di Indonesia, yaitu perusahaan negara (pemerintah), perusahaan swasta, dan koperasi. Ketiga pelaku ekonomi tersebut akan menjalankan kegiatan-kegiatan ekonomi dalam sistem ekonomi kerakyatan. Sebuah sistem ekonomi akan berjalan dengan baik jika pelaku-pelakunya dapat saling bekerja sama dengan baik pula dalam mencapai tujuannya. Dengan demikian sikap saling mendukung di antara pelaku ekonomi sangat dibutuhkan dalam rangka mewujudkan ekonomi kerakyatan.
Sistem ekonomi yang dianut oleh setiap bangsa berbeda-beda. Hal ini sesuai dengan falsafah dan ideologi dari masing-masing negara. Seperti halnya Indonesia, sistem ekonomi yang dianut oleh bangsa Indonesia akan berbeda dengan sistem ekonomi yang dianut oleh Amerika Serikat ataupun negara-negara lainnya. Pada awalnya Indonesia menganut sistem ekonomi liberal, di mana seluruh kegiatan ekonomi diserahkan kepada masyarakat. Akan tetapi karena ada pengaruh komunisme yang disebarkan oleh Partai Komunis Indonesia, maka sistem ekonomi di Indonesia berubah dari sistem ekonomi liberal menjadi sistem ekonomi sosialis.
Pada masa Orde Baru, sistem ekonomi yang dianut oleh bangsa Indonesia diubah kembali menjadi sistem demokrasi ekonomi. Sistem ini bertahan hingga masa Reformasi. Setelah masa Reformasi, pemerintah melaksanakan sistem ekonomi yang berlandaskan ekonomi kerakyatan. Sistem inilah yang masih berlaku di Indonesia.
A. Sistem Ekonomi Indonesia
Sistem ekonomi yang dianut oleh setiap bangsa berbeda-beda. Hal ini sesuai dengan falsafah dan ideologi dari masing-masing negara. Seperti halnya Indonesia, sistem ekonomi yang dianut oleh bangsa Indonesia akan berbeda dengan sistem ekonomi yang dianut oleh Amerika Serikat ataupun negara-negara lainnya. Pada awalnya Indonesia menganut sistem ekonomi liberal, di mana seluruh kegiatan ekonomi diserahkan kepada masyarakat. Akan tetapi karena ada pengaruh komunisme yang disebarkan oleh Partai Komunis Indonesia, maka sistem ekonomi di Indonesia berubah dari sistem ekonomi liberal menjadi sistem ekonomi sosialis.
Pada masa Orde Baru, sistem ekonomi yang dianut oleh bangsa Indonesia diubah kembali menjadi sistem demokrasi ekonomi. Sistem ini bertahan hingga masa Reformasi. Setelah masa Reformasi, pemerintah melaksanakan sistem ekonomi yang berlandaskan ekonomi kerakyatan. Sistem inilah yang masih berlaku di Indonesia. Berikut ini bentuk sistem ekonomi di Indonesia dari masa Orde Baru hingga sekarang.
1. Sistem Ekonomi Demokrasi
Indonesia mempunyai landasan idiil yaitu Pancasila dan landasan konstitusional yaitu UUD 1945. Oleh karena itu, segala bentuk kegiatan
masyarakat dan negara harus berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Sistem perekonomian yang ada di Indonesia juga harus berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Sistem perekonomian nasional yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 disusun untuk mewujudkan demokrasi ekonomi dan dijadikan dasar pelaksanaan pembangunan ekonomi. Sistem perekonomian Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 disebut sistem ekonomi demokrasi. Dengan demikian sistem ekonomi demokrasi dapat didefinisikan sebagai suatu sistem perekonomian nasional yang merupakan perwujudan dari falsafah Pancasila dan UUD 1945 yang berasaskan kekeluargaan dan kegotongroyongan dari, oleh, dan untuk rakyat di bawah pimpinan dan pengawasan pemerintah.
Pada sistem demokrasi ekonomi, pemerintah dan seluruh rakyat baik golongan ekonomi lemah maupun pengusaha aktif dalam usaha mencapai kemakmuran bangsa. Selain itu, negara berperan dalam merencanakan, membimbing, dan mengarahkan kegiatan perekonomian. Dengan demikian terdapat kerja sama dan saling membantu antara pemerintah, swasta, dan masyarakat.
a. Ciri-Ciri Positif Sistem Ekonomi Demokrasi
Berikut ini ciri-ciri dari sistem ekonomi demokrasi.
1) Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan.
2) Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara.
3) Bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat.
4) Sumber-sumber kekayaan dan keuangan negara digunakan untuk permufakatan lembaga-lembaga perwakilan rakyat, serta pengawasan terhadap kebijakan ada pada lembaga-lembaga perwakilan rakyat pula.
5) Warga negara memiliki kebebasan dalam memilih pekerjaan yang dikehendaki serta mempunyai hak akan pekerjaan dan penghidupan yang layak.
6) Hak milik perorangan diakui dan pemanfaatannya tidak boleh bertentangan dengan kepentingan masyarakat.
7) Potensi, inisiatif, dan daya kreasi setiap warga negara dikembangkan sepenuhnya dalam batas-batas yang tidak merugikan kepentingan umum.
8). Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara.
b . Ciri-Ciri Negatif Sistem Ekonomi Demokrasi
Selain memiliki ciri-ciri positif, sistem ekonomi demokrasi juga mempunyai hal-hal yang harus dihindarkan.
1) Sistem free fight liberalism, yaitu sistem persaingan bebas yang saling menghancurkan dan dapat menumbuhkan eksploitasi terhadap manusia dan bangsa lain sehingga dapat menimbulkan kelemahan struktural ekonomi nasional.
2) Sistem etatisme, di mana negara beserta aparatur ekonomi negara bersifat dominan serta mendesak dan mematikan potensi dan daya kreasi unit-unit ekonomi di luar sektor negara.
3) Persaingan tidak sehat dan pemusatan kekuatan ekonomi pada satu kelompok dalam bentuk monopoli yang merugikan masyarakat.
2. Sistem Ekonomi Kerakyatan
Sistem ekonomi kerakyatan berlaku di Indonesia sejak terjadinya Reformasi di Indonesia pada tahun 1998. Pemerintah bertekad melaksanakan sistem ekonomi kerakyatan dengan mengeluarkan ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor IV/MPR/1999, tentang Garis-Garis Besar Haluan Negara yang menyatakan bahwa sistem perekonomian Indonesia adalah sistem ekonomi kerakyatan. Pada sistem ekonomi kerakyatan, masyarakat memegang aktif dalam kegiatan ekonomi, sedangkan pemerintah menciptakan iklim yang sehat bagi pertumbuhan dan perkembangan dunia usaha. Sistem ekonomi kerakyatan mempunyai ciri-ciri berikut ini.
a. Bertumpu pada mekanisme pasar yang berkeadilan dengan prinsip persaingan yang sehat.
b. Memerhatikan pertumbuhan ekonomi, nilai keadilan, kepentingan sosial, dan kualitas hidup.
c. Mampu mewujudkan pembangunan berwawasan lingkungan dan berkelanjutan.
d. Menjamin kesempatan yang sama dalam berusaha dan bekerja.
e. Adanya perlindungan hak-hak konsumen dan perlakuan yang adil bagi seluruh rakyat.
B. Pelaku Utama dalam Sistem Perekonomian Indonesia
Sistem ekonomi kerakyatan sendi utamanya adalah UUD 1945 pasal 33 ayat (1), (2), dan (3). Bentuk usaha yang sesuai dengan ayat (1) adalah koperasi, dan bentuk usaha yang sesuai dengan ayat (2) dan (3) adalah perusahaan negara. Adapun dalam penjelasan pasal 33 UUD 1945 yang berbunyi “hanya perusahaan yang tidak menguasai hajat hidup orang banyak boleh di tangan seorang”. Hal itu berarti perusahaan swasta juga mempunyai andil di dalam sistem perekonomian Indonesia. Dengan demikian terdapat tiga pelaku utama yang menjadi kekuatan sistem perekonomian di Indonesia, yaitu perusahaan negara (pemerintah), perusahaan swasta, dan koperasi. Ketiga pelaku ekonomi tersebut akan menjalankan kegiatan-kegiatan ekonomi dalam sistem ekonomi kerakyatan. Sebuah sistem ekonomi akan berjalan dengan baik jika pelaku-pelakunya dapat saling bekerja sama dengan baik pula dalam mencapai tujuannya. Dengan demikian sikap saling mendukung di antara pelaku ekonomi sangat dibutuhkan dalam rangka mewujudkan ekonomi kerakyatan.
Langganan:
Postingan (Atom)
.jpg)